TASAWUF FALSAFI KONSEP DAN TOKOHNYA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugasa mata kuliah “Ilmu Tauhid” yang diampu oleh Bapak: Moch. Cholid Wardi, M.H.I.



Oleh:

Kelompok: 7

Lisa Rosita Dewi ( 18383022098)
Qorinatul Jamilah ( 18383022146)
Riyawan Luluk Rahmatika ( 18383022152)
Riski Yanti ( 18383022156)
Nita Sofya Handayani (18383022134)


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
EKONOMI BISNIS ISLAM
PERBANKAN SYARIAH
2018











KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat ilahi rabbi,atas nikmatnya kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan tugas makalah Ilmu Tauhid yang diampu oleh Bapak Moch Cholid Wardi, H.M.I.
Shalawat maha salam Allah semoga tetap teralir deraskan kepada junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW.,yang telah memberikan cahaya dalam diri kita dengan adanya iman dan islam.Kami membuat makalah ini dengan maksud dan tujuan agar pembaca dapat menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan sehingga menjadi muslim yang unggul dalam ilmunya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa susunan makalah ini,masih sangat jauh dari kata sempurna baik dari penyusunan kata maupun isi dari makalah ini.Kesalah demikian karena ilmu yang kami miliki masih sangat terbatas,oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami harapkan kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini.
Sebagai makalah sederhana yang kami harapkan kepada seluruh pencinta ilmu pengetahuan,sudah sepatutnya kami mohon kepada Allah SWT semoga Allah senantiasa selalu memberkati pikiran dan semua tindakan yang kita lakukan.






Pamekasan 05 Oktober  2018



DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
B.     Rumusan masalah
C.     Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tasawuf Falsafi dan Perkembangan Tasawuf Falsafi
B.     Tokoh-tokohTasawuf Falsafi
C.     Keterkaitan Ilmu Tasawuf Filsafat

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA








BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

    Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi Mistis dan visi rasional penguasanya. Berbeda dengan tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi menggunakan terminology filosofis dalam pengungkapannya. Terminology falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah  memengaruhi para tokohnya.
Untuk menemukan rumusan yang tepat, atau setidak-tidaknya yang bisa diterima sebagai rumusan yang universal tentang apa dan bagaimana filsafi itu, maka persoalan yang lebih dahulu harus kita selesaikan adalah : apakah sebenarnya filsafat itu?

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka pemakalah membatasi pembahasan sebagai berikut :
1.      Apakah pengertian tasawuf falsafi ?
2.      Siapa tokoh-tokoh tasawuf falsafi ?
3.      Bagaimana konsep ajarannya ?

C. Tujuan Masalah

Adapun tujuan pembuatan makalah adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian tasawuf falsafi
2.      Untuk mengetahui tokoh-tokoh tasawuf falsafi
3.      Untuk mengetahui bagaimana konsep ajaran-ajarannya


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tasawuf Falsafi

pertama, mereka yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata ahlusufah yaitu dinisbatkan kepada sebagian sahabat Rosuluallah SAW. Yang hidupnya selalu menempati ruangan–ruagan diserambi masjid Rosuluallah di Madinah. Mereka makan, minum, tidur diserambi masjid ini. Mereka memusatkan perhatian dalam hidupnya untuk beribadah kepada Allah untuk mencari keridhaannya.
Kedua tasawuf berasal dari kata shofa. Kata shofa ini beruntuk fi’il mabni majhul sehingga menjadi  ismulhaq dengan huruf ya’ nisbah, yang berarti nama bagi orang-orang yang “ bersih “ atau “ suci “. Maksudnya adalah orang-orang yang menyucikan dirinyadihadapan TuhanNya.
Ketiga Istilah tasawuf berasal dari kata shaf. Ma’nasaf ini dinisbah kan kepada orang- orang yang ketika shalat selalu berada di shaf yang paling depan.[1]
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya  memadukan antara visi mistis dan visi rasional penguasanya. Berbeda dengan tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi menggunakan terminology filosofis dalam pengungkapannya. Sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoristis sehingga dalam konsepnya lebih mengedepankan asas rasio dengan pendekatanpendekatan filosof yang sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam[2]. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran yang mempengaruhi para tokohnya.
-          Menurut At-Taftazani, ciri-ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar akibatnya banyak istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami ajaran tasawuf jenis ini. Tasawuf falsafi tidak dapat dipandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa ( dzauq), tetapi tidak dapat pula dikatagorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajrannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi panteisme.[3]
-          Menurut Ibnu Khaldun, ada empat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof, antara lain:
1.      Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi,serta introspeksi diri yang timbul darinya.
2.      Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam ghaib, seperti sifat-sifat rabbani,arsy.
3.      Peristiwa dalam alam yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk keluarbiasaan
4.      Menciptakan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar- samar yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa  mengingkarinya.
 Para sufi filosof melebihi sufi sunni. Hal ini disebabkan karena mereka adalah para filosof yang baik tentang wujud, sebagaimana yang terlihat dalam karya-karya mereka. Selain itu kelainan mereka menggunakan simbol sehingga dapat dipahami orang lain.[4]

B. Tokoh-tokoh Tasawuf Falsafi 

1) Ibnu ‘Arabi

  Nama lengkap Ibnu Arabi adalah Muhammad bin Ali Bin Ahmad Bin Abdullah Ath-Tha’i Al-Haitami. Ia lahir di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol, tahun 560 H, dari keluarga berpangkat haratawan dan ilmuan. Pada tahun 1201 M/ 598 H Ibnu Arabi meninggalkan Spanyol karena situasi politik pada masa itu tidak menguntungkan baginya serta tasawuf yang di anutnya tidak di sukai di kawasan itu. Barangkali dengan tujuan utama untuk ibadah haji, ia berangkat menuju kawasan Timur. Mesir adalah negeri pertama yang ia singgahi untuk beberapa lama tetapi ternyata di daerah itu aliran tasawufnya tidak diterima masyarakat. Oleh karena itu ia melanjutkan pengembaraannya melalui Jerussalem dan menetap di Mekkah untuk beberapa lama.
Di kawasan Saudi ternyata ia diterima penguasa dan masyarakat dengan baik. Akan tetapi, ia tidak menetap di kota Suci itu, karena ternyata pengembaraan itu berakhir di Damaskus sebagai tempat menetapnya sampai ia meninggal tahun 1240 M/638 H dan dimakamkan di kaki gunung Qosiyun. Ia mempunyai dua orang putra yang seorang terkenal sebagai penyair sufi, namanya Sa’dudin dan yang satu lagi Imaduddin, keduanya dimakamkan berdekatkan dengan Ibnu Arabi. Ibnu Arabi adalah penulis yang produktif , yang menurut Browne ada 500 judul karya tulis dan 90 judul diantaranya asli tulisan tangannya tersimpan di perpustakaan negara Mesir. Tetapi menurut Sya’roni, Ibnu Arabi menulis buku sekitar 400 judul buku saja termasuk Fusus dan Futuhat. Produktifitasnya dalam menulis terutama ia bermukim di Makkah dan Damaskus atau sekitar 20 tahun terakhit masa hidupnya.[5]

2) AL-JILI 

Nama lengkapnya adalah Abd. Karim bin Ibrahim Al.-Jili. Beliau dilahirkan di al-Jilan bagian Selatan laut Kaspia yang terletak di Asia Tengah pada tahun 767 H bertepatan dengan tahun 1365 M dan wafat pada tahun 805 H/1405 M . Nicolson menilainya bahwa al-Jili terkait dengan Abd.Karim al-Jili atau Gilani( masyarakat kita,tokoh ini lebih dikenal dengan nama Abd.Kodir Jailani). Seorang pendiri terekat kodariah yang wafat pada tahun 300 sebelum kelahiran Abd. Karim al-Jili.
Al-Jili belajar Agama di daerahnya setelah merasakan cukup baginya tentang pengetahuan Agama. Beliau mengembara untuk mencari Ilmu didaerah lain di Zahit salah satu negeri Diaman Selatan, ia berguru kepada Syarifuddin Bin Ismail Bin Ibrahim al-Jabari. Dengan berbasis ilmu dan pengalaman yang sangat luas. Beliau menekuni dunia tasawwuf. Agaknya corak tasawwuf yang dikembangkan banyak memiliki kesamaan dengan Ibnu Arabi, karena ia di anggap sebagai pelanjut ajaran tasawwuf  Ibnu Arabi terutama tentang konsep Nur Muhammad. Al-Jili sebagai seorang yang kreatif dan produktif dalam mengembangkan ilmunya, beliau banyak mempunyai karya-karya, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk makalah. Adapun bukunya yang terkenal dengan judul Al-Insan Al-Kamil fi ma’rifat Al-awakhir wa al-awail[6].

3) Ibn Sab,in 

Nama lengkapnya Abdul Haqq Ibnu Ibrahim Muhammad Ibnu Nashr, seorang sufi dan juga filosof dari Andalusia ia dipanggil Ibnu sab’in dan digelari Quthbuddin.dan dikenal pula dengan Abu Muhammad dan mempunyai asal-usul Arab, dan dilahirkan pada tahun 614 H (1217/1218 M) dikawasan Murcia. Dia mempelajari bahasa Arab dan Sastra, dia juga mempelajari ilmu agama dari madzhab Maliki, ilmu-ilmu logika, dan filsafat. Ia mengemukakan gurunya bahwa di antara guru-gurunya adalah Ibnu Dihaq, yang di kenal juga yang di kenal dengan Ibnu Al-Mir’ah. Ibnu tumbuh dewasa dalam keluarga bangsawan, hidupnya dalam suasana penuh kemuliaan dan berkecukupan, tetapi beliau menjauhi hidup kemewahan dan kepemimpinan duniawi, lalu hidup sebagai asketis maupun yang mempunyai banyak murid.
Ibnu Sab’in meninggalkan karya yang menguraikan tasawufnya secara teoretis maupun praktis. Sebagian karyanya hilang dan sebagian risalahnya telah disunting oleh Abdurrahman
Badawi dengan judul Rasa’il Ibnu Sab’in (1965 M) dan karya yang lainnya: Jawab Shahih Shiqilliyah, telah disunting oleh Syarifuddin Yaltaqiya. Dapat dilihat jelas dari karyanya beliau tampak berpengetahuan yang sangatlah luas dan beraneka. Dia mengenal berbagai aliran filsafat Yunani dan filsafat-filsafat hermemitisme, Persia dan India, selain itu dia juga banyak menelaah karya-karya filosof-filosof Islam dari dunia Islam bagian Timur, seperti Alfarobi dan Ibnu Sina, dan filosof bagian Barat seperti Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd. Dan dia menguasai kandungan risalah-risalah ikhwanul ashafa, dan secara rinci mengetahui aliran teologi, khususnya aliran syi’ariyah.[7] 

C. Konsep Ajarannya

1. Ajara Ibn ‘Arabi  Wahdat  al-wujud

Ajaran sentral Ibnu Arabi adalah tentang wahdat al-wujud (kesatuan wujud). Meskipun demikian, istilah wahdat al-wujud yang di pakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari Ibnu Taimiyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentral tersebut. Setidaknya Ibnu Taimiyah yang telah berjasa dalam mempopulerkan wahdat al-wujud ke tengah masyarakat Islam, meskipun tujuannya negatif. Meskipun semua orang sepakat menggunakan istilah wahdat al-wujud untuk menyebut ajaran sentral Ibnu ‘Arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wahdat al-wujud. Menurut Ibnu Taimiyah, wahdat al wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam.  Menurut orang yang berpaham ini mengatakan bahwa wujud itu hanya satu dan wajib al-Wujud yang dimiliki oleh Khaliq juga adalah Mumkin al-Wujud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu orang-orang yang mempunyai paham ini juga mengatakan bahwa wujud alam sama wujud Tuhan. Tidak ada kelainan dan tidak ada perbedaan.
  Menurut Ibn Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud Khaliq pula. Tidak ada perbedaan antra keduanya ( Khaliq dan makhluk)  dari segi hakikat.  Adapun kalau ada yang mengira adanya perbedaan wujud Khaliq dan makhluk, hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada dzat-nya dari kesatuan dzatiyah, yang segal sesuatu yang berhimpun padanya.[8]

2. Ajaran Al-jili Insan Kamil

Ajaran tasawuf al-jili yang terpenting adalah paham insan kamil (manusia sempurna). Menurut al-Jili, insan kamil adalah nuskahah atau copy Tuhan, al-Jili memperkuatnya dengan hadist, “ Allah menciptakan adam dalam bentuk dirinya”. 
Sebagaimana diketahui, Tuhan memiliki sifat-sifat seperti hidup, pandai, mampu berkehendak, mendengar, dan sebagainya. Adapun memiliki sifat-sifat seperti itu proses yang terjadi setelah ini Tuhan menciptakan subtansi, huwiyah Tuhan dihadapkan dengan huwiyah Adam, dan dzat-Nya dihadapkan pada dzat Adam, dan akhirnya Adam berhadapan dengan Tuhan dalam segala hakikatnya. Melalui konsep ini, kita memahami bahwa Adam dilihat dari sisi penciptaan-Nya merupakan salah satu insan kamil dengan segala kesempurnannya. Sebab, pada dirinya terdapat sifat dan nama illah-Nya. 
Al-Jili mengemukakan bahwa perumpamaan hubungan Tuhan dengan insan kamil adalah bagaikan cermin dimana seseorang tidak akan dapat melihat bentuk dirinya kecuali melihat cermin itu. Begitu pula halnya dengan insan kamil, sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat diri-Nya, kecuali dengan cermin nama Tuhan, sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat diri-Nya, kecuali melalui cermin insan kamil. Sebagaimana yang terdapat ( QS Al-
Ahzab: 72)
اناعرضنا الامانة على السموات والارض والجبال فابين انيحملنهاواشفقن منهاوحملهاالانسن انه كان
 ظلوماجهولا
yang Artinya “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanyaenggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh”. Al- Jilli berkata bahwa duplikasi al-Kamal ( kesempurnaan) dimiliki manusia bagaikan cermin yang saling berhadapan. Ketidaksempurnaan disebabkan oleh sifat ‘Aradhi, termasuk bayi yang berada dalam kandungan Ibunya. Al-Kamal dalam konsep al-Jilli mungkin dimiliki oleh manusia secara professional ( Bi al-quwah) dan secara aktual (Bi al-fiil) seperti yang terdapat dalam Wali dan Nabi meskipun dalam intensitas yang berbeda. [9]

                -     Maqamat ( Al-Martabah)

Al-Jilli dengan filsafat insan kamil-Nya, merumuskan beberapa Maqam yang harus dilalui seorang sufi. Adapun tingkatannya antara lain: 
1.      Islam, yang didasarkan pada lima pokok atau rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan ritual saja, tetapi harus dipahami dan dirasakan secara mendalam.
2.      Iman, yakni membenarkan sepenuh keyakinan akan rrukun iman, dan melaksanakan dasar-dasar islam. Iman merupakan tangga pertama mengungkap tabir alam gaib, dan alat yang membantu seseorang mencapai tingkat yang lebih tinggi.
3.      Ash-Shalah, yakni dengan maqam ini seorang sufi mencapai tingkat ibadah yang terus-menerus kepada Allah denga penuh perasaan khauf dan raja’. Tujuan maqam ini adalah mencapai nuqtah ilahiah pada lubuk hati sang hamba, sehingga ia akan mentaati syari’at Tuhan dengan baik.
4.      Ihsan, yakni dengan maqam ini menunjukkan bahwa seorang sufi telah mencapai tingkat menyaksikan efek ( atsar) nama dan sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya, Ia merasa seakan-akan berada dihadapan-Nya. Persyaratan dari Maqam ini ialah tobat, inabah, zuhud, tawakal, rida, dan ikhlas.
5.      Syahadah, yakni seorang sufi dalam Maqam ini telah mencapai Iradah yang bercirikan: Mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingat-Nya secara terusmenerus, dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi. Syahadah terbagi dalam dua tingkatan yaitu, mencapai Mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih dan menyaksikan Tuhan pada semua makhluk-Nya secara ‘ainul yaqin.
6.      Shiddiqiyah istilah ini mengambarkan tingkat pencapaian hakikat yang makrifat yang diperoleh secara bertahap dari ilmu al-Yaqin, Ain al-Yaqin, sampai Haqul Yaqin. Menurut Al-Jilli untuk mencapai derajat shiddiq akan menyaksikan hal-hal yang gaib, kemudian melihat rahasia-rahasia Tuhan sehingga mengetahui hakikatNya.
7.      Qurbah merupakan maqam yang memungkinkan seorang sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.
Demikianlah maqam-maqam yang dirumuskan oleh al-Jilli dalam upaya pendekatan kepada Tuhan. Namun, satu hal yang kita ketahui bahwa al-Jilli mengatakan “Mengetahui zat yang Maha Tinggi itu secara kasyaf ilahi, yaitu kamu dihadapan-Nya dan dia dihadapanmu tanpa hulul dan ittihad. Sebab hamba adalah hamba dan Tuhan adalah Tuhan. Oleh karena itu hamba tidaklah mungkin menjadi Tuhan ataupun sebaliknya.

3. Ajaran Ibn Sab’in 

a. Kesatuan Mutlak

Ibn Sab’in menggagas sebuah paham dalam tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak, gagasan esensialnya sederhana yaitu wujud adalah satu alias wujud Allah semata. Wujud yang lainnya yaitu wujud yang satu itu sendiri.
Paham kesatuan mutlak ini berbeda dari paham-paham tasawuf yang memberi ruang lingkup pada pendapat-pendapat tentang hal yang mungkin didalam suatu bentuk. Dalam paham ini Ibn Sab’in menempatkan keTuhanan pada tempat pertama. Sebab wujud Allah menurutnya adalah asal segala yang ada pada masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniah. Dengan demikian, paham ini dalam menafsirkan wujud bercorak spiritual bukan material.
Pemikiran Ibn Sab’in ini mengambil rujukan dari Al-Qur’an yang diinterpretasikan secara filosofis ataupun khusus. Seperti yang terdapat dalam ( QS.Al-Hadid [57]: 3)
 هوالاول والاخر والظهر والباطن وهوبكل شئ عليم
  Artinya “Dia itulah yang awal dan yang akhir, yang dzahir dan yang batin. Atau dalam firman Allah yang lain ( QS Ali-Imran [3]: 185]
كل نفس دائقةالموت وانماتوفون اجورهم يوم القيامة فمن زحزح عن الناروادخل الجنة فقد فازوماالحيوةالدنياالامتع  الغرور
 Artinya “tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah”. Terkadang dia memperkuat pahamnya dengan Hadis-hadis Nabi, diantaranya Hadist Qudsi, “Apa yang pertama-tama diciptakan Allah adalah akal budi. Maka firman Allah kepadanya, terimalah! Ia pun menerimanya…”. Namun Ibn Taimiyah menolak dan mengecam keras pendapat Ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak, menjelaskan bahwa interpretasi Ibn Sab’in terhadap nash-nash agama tidaklah benar. Begitu dengan Hadist Qudsi yang digunakan adalah maudu’.
Paham kesatuan Ibn Sab’in ini mirip dengan paham “hakikat Muhammad” dan “Qutb” dari sebagian sufi yang juga filosof, seperti Ibn Arabi dan Ibn Al-Faridh, atau paham “manusia sempurna” dari Abdul Karim Al-Jilli. Menurut Ibn Sab’in, pencapaian kesatuan mutlak adalah individu yang paling sempurna. Sempurna yang dimiliki seorang fuqaha, teolog, filosof, maupun sufi. Inilah pribadi yang melebihi mereka semua dengan pengetahuannya yang khusus, yaitu ilmu pencapaian yang menjadi pintu gerbang kenabian, sosok pribadi yang dari segi hakikat rohaniahnya justru bersatu dengan Nabi, yang mengendalkan semesta, dan segala sesuatupun didasarkan padanya.

b. Penolakan terhadap Logika Aristotelian

Paham tentang kesatuan mutlak telahh membuatnya menolak logika Aristotelian. Terbukti dalam karya Al-Arif, ia menyusun suatu logika baru yang bercorak iluminatif, sebagai pengganti logika yang berdasarkan pada konsepsi jamak., Ibn Sab’in menanamkan logika barunya itu dengan logika pencapain kesatuan mutlak, tidak termasuk tembusan Ilahi yang membuat manusia bisa melihat yang belum pernah dilihatnya maupun mendengar yang belum pernah didengarnya. Dengan demikian, logika tersebut bercorak intuitif. Kesimpulan penting dari logika Ibn Sab’in adalah realitas-realitas logika Ibn Sab’in tersebut realitas-realitas logika dalam jiwa manusia bersifat alamiah dan keenam kata logika ( gebus, species, difference, proper, accident,person) yang memberi kesan adanya wujud jamak sekedar ilusi belaka, begitu juga dengan kesepuluh kategori, sekalipun berbeda dan beraneka, tetap merujuk pada wujud tunggal yang mutlak.[10]

                                                                     



BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

 Tasawuf  falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengegasnya. Terdapat beberapa pendapat dari para ahli tentang muasal kata tasawuf, pertama, mereka yang menyatakan asal tasawuf dari kata Ahlu Suffaah (di nisbatkan kepada sebagian sahabat). Kedua, berasal dari kata Shafa (bersih/suci). Ketiga berasal dari kata Shaff (dinisbatkan kepada barisan sholat dan barisan perang). Adapun tokoh-tokoh tasawuf falsafi diantaranya:  
1.      Ibnu ‘Arabi dengan berbagai ajarannya seperti Wahdat Al-Wujud.
2.      Al-Jili dengan berberbagai ajarannya Insan Kamil dan Maqamat ( Al-Martabah).
3.      Ibnu Sab’in dengan berbagai ajarannya Kesatuan Mutlak dan Penolakan terhadap Logika Aristotelian. 
Ilmu tasawuf tidak dapat lepas dari ilmu-ilmu keislamannya seperti, ilmu kalam dan fiqh, filsafat, ilmu jiwa, dan ilmu-ilmu lainnya. Sebagai contoh materi dari kaitannya ilmu tasawuf dengan filsafat ialah Qalb dan An-Nafs yang berkembang dalam tasawuf. Materi ini mampu membuat sederetan intelektual seperti: Al-kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina memeberikan hal yang berharga sebagai kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam.

B. Saran

 Saran dari penulis ialah kami berharap dengan makalah ini dapat mempermudah pembaca untuk lebih memahami dan lebih memperdalam ilmu pengetahuan dengan semaksimal mungkin.

DAFTAR PUSTAKA


Anwar, Rosihon. 2010. Aklak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia
Nasution, Ahmad Bangun dan Rayani Hanum Siregar. 2015. Akhlak Tasawuf.  PT                                                Rajagrafindo Persada
Ni’am Syamsun. 2014. Tasawuf Studies. Ar-Ruzz Media
Solichin, Mohammad Muchlis. 2014. Akhlak dan Tasawuf. Surabaya: CV Salsabila Putra                         
                            Pratama
Sunardji, Dahri Tiam. 2014. Filsafat Islam. Malang: Intrans Publishing



[1] Syamsum Ni’am, Tasawuf Studies( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 24. 
[2] Sunardji Dahri Tiam, Filsafat Islam( Malang: Intrans Publishing, 2014), hlm.6
[3] Ahmad Bangun Nasution dan Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2015), hlm. 33.
[4] Ibid., hlm. 34.
[5] Ibid., hlm. 36. 
[6] Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf( Bandung: CV.Pustaka Setia, 2010), hlm.287.
[7] Ibid., hlm. 294.
[8] Ibid., 35.
[9] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak Tasawuf( Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama, 2016), hlm. 201.
[10] Ibid., 298.

Komentar

Postingan populer dari blog ini