SEJARAH MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA TASAWUF
MAKALAH
Disusun
untuk Memenuhi Tugas Matakuliah AhlakTasawuf
Dosen
Pengampu Moch. CholidWardi, M.H.I.
Disusun
oleh:
Moh.Hasani 18383021124
Moh. Calvin ar-raziki 18383021121
Moh.Ilhammansis 18383021125
Moh.Agusyadi 18383021119
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
PRODI PERBANKAN SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA 2018
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULAN
1. LatarBelakang........................................................................................... 1
2. RumusanMasalah...................................................................................... 1
3. TujuanPenulisan........................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
1. PengertianIlmuTasawuf............................................................................ 2
2. IlmuTasawuf............................................................................................. 3
3. MunculnyaIlmuTasawuuf......................................................................... 3
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan................................................................................................ 5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAUHULUAN
A. Latar Belakang
Di zaman sekarang banyak orang yang mengetahui ilmu tasawuf tapi tidak memahami apa itu Tasawuf, tasawuf
merupakan suatu ajaran untuk mendekatkan diri pada Allah bahkan kalau bisa
menyatu dengan Allah melalui cara dan jalan, yaitu dengan ajaran tasawuf.
Melihat betapa pentingnya ilmu
tasawuf dalam kehidupan ini tidaklah mengherankan jika ilmu tasawuf ditentukan
sebagai mata kuliah yang wajib diikuti kita semua. Sebagai upaya untuk
menanggulangi kemerosotan moral yang tengah dialami bangsa ini. Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini saya
akan mencoba menerangkan beberapa persoalan yang berhubungan dengan tasawuf,
yaitu pengertian tasawuf, sejarah munculnya tasawuf , sejarah berkembangnya
tasawuf, dan demikian pentingnya
peranan tasawuf dalam kelangsungan hidup manusia.
Dan dalam makalah ini saya akan memberikan sedikit pemaparan yang dapat
saya paparkan yang berjudulkan “Sejarah Muncul dan Berkembangnya Tasawuf”,
sebagai berikut ini.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari Ilmu Tasawuf ?
2.
Bagaimana sejarah munculnya sejarah Tasawuf ?
3.
Bagaimana sejarah berkembangnya Ilmu Tasawuf ?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui pengertian dari Ilmu Tasawuf.
2.
Untuk mengetahui tentang sejarah munculnya Ilmu Tasawuf.
3.
Untuk mengetahui tentang berkembangnnya Ilmu Tasawuf.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ilmu Tasawuf
Terdapat
beberapa pendapat dari para ahli tentang asal muasal kata tasawuf, yaitu
pertama, mereka yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata ahlu suffah
yaitu dinisbatkan kepada sahabat Rasulullah SAW yang hidupnya selalu menempati
Ruangan-ruangan diserambi masjid Rasulullah di Madinah.
Dalam
berbagai keadaan dan keseluruhan hidupnya diabadikan untuk beribadah dan
mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Nabi Muhammad Saw.
mereka hidup dalam keadaan miskin, tapi tabah menjalani kehidupan. Mereka
dipuji oleh allah dalam firmannya: “Dan
sabarlah kamu sekalian bersama dngan Orang-orang yang menyeru tuhanya dipagi
dan senja hari dengan mengharap
Ridha-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan
perhiasan kehidupan di dunia ini: dan janganlah kamu mengikuti orang yang
hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta mengikuti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melampaui batas”.
Kedua, kata tasawuf berasal dari kata shafa yang
berarti bersih atau suci. Kata ini dinisbatkan kepada orang-orang yang selalu
menjaga kebersihan dan kesucian hatinya
dengan menjauhi segala bentuk pelanggaran atau kemaksiatan kepada allah serta
selalu melakukan ketaatan kepada allah.
Ketiga, mereka yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata
shaff, yang dinisbatkan kepada barisan shalat dan barisan perang. Mereka
kaum sufi, mereka yang selalu berada di shaf depan dalam shalat terutama rasululah. Dalam kata lain,
mereka selalu tekun dan rajin serta berlomba-lomba dalam menjalankan kebaikan
dan taat kepada allah.
Keempat, mereka yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari
kata saufi yang berarti kebijaksanaan. Kata ini dinisbatkan kepada para
kaum sufi yang selalu cinta kepada kebenaran dan kebijaksanaan. Pendapat ini
setidaknya di kemukakan oleh Mirkaz yang kemudian di ikuti jurji zaidan yang
menyatakan bahwa istilah sufi sudah ada sebelum terjadinya penerjemahan
karya-karya yunani, yang selanjutnya mempengaruhi alam pikiran umat islam, dan
terjadilah asimilasi antara pemikiran kaum filosof yunani dengan kalangan umat
islam.
Kelima, mereka yang menyatakan bahwa kata tasawuf berasal dari
kata shuff yang berarti bulu domba. Kata ini di nisbatkan kepada kaum
sufi yang dalam kesehariannya selalu menggunakan kain shuff, yaitu kain kasar
terbuat dari bulu domba. Kata ini memberi gambaran bahwa kaum sufi adalah
mereka yang hidup dalam kesederhanaan, tidak bermewah dan glamor.
Keenam, mereka yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata
shaufana, yaitu buah-bahan kecil yang berbulu banyak dan tumbuh di
padang pasir. Ini juga dinisbatkan kepada kehidupan kaum sufi yang selalu
sederhana.[1]
B. SUMBER DAN DASAR TASAWUF
Berbagai
pendapat para ahli yang menjelaskan asal
muasal kelahiran tasawuf berdasarkan perspektif
yang berbeda. Pertama, mereka yang menyatakan bahwa tasawuf dalam
islam berasal dari tradisi berfikir yunani. Pengaruh yunani masuk kedunia tasawuf
melalui penerjemahan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh intlektual muslim. Pada
saan itulah terjadi transmisi pemikiran yunani-terutama filsafat kealam fikiran
umat islam, termasuk berbagai pemikiran yang juga masuk kedalam alam tasawuf.
Mereka yang dipengaruhi oleh pemikiran yunani adalah mereka yang msuk dalam
kategori tasawuf falsafi.
Pendapat
lain menyatakan bahwa tasawuf dipengaruhi oleh filsafat emanasi Plotinus yang
menyatakan Allah memancarkan zat menjadi alam semesta ini diantaranya adalah
roh. Jadi roh berasal dari manusia dan akan kembali tuhan sebagai asal
muasalnya. Untuk kembali kepada tuhannya itulah roh harus disucikan, karna
ketika roh kepada alam materi kepada jasad, maka roh itu menjadi kotor.
Pembarsihan roh hanya dapat dilakukan dengan menjauhkan dari kepentingan materi.
Dengan kata lain harus menjauhkan dan bahkan meninggalkan dunia. Proses inilah
yang dinamakan hidup asketis (zuhud).[2]
Dalam
ajaran filsafat emanasi dijelaskan bahwa ada yang sesungguhnya adalah tuhan,
sdangkan yang lain adalah tidak ada. Prinsip iilah yang melahirkan “nihilism
syari’at, yaitu suatu kyakinan yang menerang ketidak adaan syariat yamg
menegaskan tidak perlunya seorang sufi yang menjalankan ajaran-ajaran syariah.
Ini diajarkan oleh tokoh-tokoh sufi seperti Al-Hallaj”.
Unsur
berikutnya yang diterangi sebgi asal muasal tasawuf adalah unsur hindu budha.
Salah satu ajaran tasawuf adalah konsep al fana’ dan al baqa’ yan
dicetuskan abu yazid al-bustami. Dalam konsep fana’ dikenal dengan upaya
manusia/kaum sufi untutk melenyapkan sifat-sifat buruk, melenyapkan sifat-sifat
kemanusiaan diganti dengan sifat-sifat ketuhanan. Konsep ini juga dikenal dalam
agama budha dengan konsep nirmawa yang mengajarkan umatnya untuk meninggalkan
kenikmatan duniawiyah menuju kepada Allah.
Ajaran-ajaran
tentang nirmawa adalah identic dengan istilah dalam tasawuf al baaqa’ yang diterapkan oleh kaum sufi. Dalam kasus
lain, kaum sufi menggunakan alat hitung yang dalam tradisi islam dikenal
sebutan tasbih. Cerita tentang seorang sufi yang bernama Ibrahim bin
A’dham adalah mirip dngan cerita sang budha, seorang anak raja yang melepaskan
kemewahan dan kesenang-senangan dengan mengembara dan menghilangkan kesenangan
dengan segala atributnya.
Unsur
Persia juga disebut-sebut mempengaruhi ajaran tasawuf. Terdapat kesamaan ajaran
zuhud yang ditemukan dalam agama orang-orang Persia yaitu agama manu dan
masdaq, antara lain adalah al hakital muhammadiyah dan faham hormus
(tuhan kebaikan dalam agama zarat fustra). Demikian juga terdapat tokoh-tokoh
tasawuf dari Persia, yaitu abu yazid al bistami dan dalam menerima dari gurunya
abu dari shind.
Dengan
demikan, terdapat beragam pendapat dari para ahli berkaitan dengan asal usul
tasawuf. Para ulama dan tokoh islam menolak bahwa tasawuf itu berasal dari luar
islam. Diantara tokoh yang menolak anggapan yang menyatakan bahwa taswuf
berasal dari luar islam adalah abduk halim mahmud, yang menyatakan bahwa
sesungguhnya ajaran-ajaran tasawuf itu berasal dan digali ajaran Alquran dan
Alhadits. Terdapat banyak ayat Al-Quran dan Hadits yang menerangkan berbagai
perilaku sufistik yang dalil yang dijadikan dasar dari ajara-ajaran tasawuf.
Keberagaman doktrin dan amalan kaum sufi ditengarai terjadi ketika islam menyebar
wilayah-wilayah arab. Yang pada itulah kebudayaan dan peradaban local
mempengaruhi corak dan ajaran tasawuf sebagaimana dijelaskan di atas.[3]
C. Perkembangan
Ilmu Tasawuf dalam Lintasan Spiritualitas Islam
Abad
pertama, Muhammad SAW yag kehidupannya dianggap sebagai model bagi muslim
sepenuhnya berkehidupan di dalam masyarakat, tetap hidup berkeluarga, memiliki
anak, berperang, bahkan mengatur pemerintahan.
Pemahaman
tasawuf dalam lintas sejarah diantaranya dapat dilacak dari sejarah
Rasulullah SAW yang berada di gua hira untuk bertafakurdan beribadah sebagai
orang yang rindu akan tuhannya dengan menghindarkan diri dari kehidupan duniawi
dan kemewahan.[4]
Abad kedua, desakan
kehidupan aksetis muncul sebagai sebuah bentuk reaksi umat muslim atas
kerusakan yang disebabkan oleh kesejahteraan baru yang begitu amat melimpah
sebagai akibat perluasan ekspansi kekuasaan islam. Disamping itu, tidak dapat
pula dipisahkan dari pengaruh asketisme kristiani yang telah hidup di Syria dan
Mesir, termasuk juga pengaruh dari asketisme orang-orang India.
Sumber asketismeabad kedua islam, yang disebut-sebut
sebagai awal tumbuhnya tasawuf dalam kelompok muslim, ditandai dengan apa yang
disebut dengan “Sufi”, yaitu sebuah nama yang dating dari pakaian wool (suf) yang mereka pakai. Sementara Hasan al-basra sebagai tokoh sufi pada
masa ini menghadirkan gerakan seperti ini bertujuan untuk mengintegrasikan
keshalihan asketis dalam spiritualitas islam.
Dari lacakan sejarah islam, banyak ditemukan para
sahabat dan tabi’in melakukan
peraktik kehidupan sufi untuk mendapatkan kepuasan diri dalam beramal dan
bertafakur kepada Allah SWT. Dari sini kemudian, para sufi melihat betapa
perlunya seorang hamba menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bahkan, tradisi kehidupan sufi ini pun semakin menunjukkan perkembangannya yang
berarti pada masa bani saljuk dimana para pemuda cenderung hidup sebagai sufi
di zawiyah-zawiyah yang khusus dibuat
untuk melakukan kegiatan-kegiatan maqamat
sufi. Sejarah telah mencatat, misalnya imam besar sufi al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) hidup dan mengembangkan ajaran sufinya
pada masa-masa ini.
Pertentangan antar animasi duniawi dan dunia
transenden didramatisasi secara luar biasa dalam kehidupan dan
ungkapan-ungkapan para sufi, seperti Rabiah
al-Adawiyah (w. 185 H/801 M) yang berasal dari basra. Rabi’ah menjadi kunci
bagi pengembangan nilai-nilai etik dalam kelompok sufisme.
Selain rabi’ah, juga muncul sufi besar lainnya,
seperti Sheikh Haris AL-Muhasibi (w.
242 H/895M) yang memaknai penerimaan penyatuan tuhan dengan manusia. Begitu pula
Ja’far as-Siddiq (W. 148 H/765 M)
sebagai keenam syi’ah telah pula menampilkan model kehidupan sufi berdasarkan
interpretasi al-Qur’an. Begitu pula dari lingkungan irak muncul Junayd (W. 297H/910 M).
Secara kategoris, Michael A. Sells dalam bukunya early
Islamic Mysticism Sufi, Qur’an,Mi’raj, Poetic, and Theological Writtng, “mengungkapkan
sejarah perkembangan tasawuf. Menurutnya ada empatfase perkembangan
spiritualitas islam yang menggiring pada kehidupan sufi dalam islam. Yaitu
sebagai berikut.
1. Fase
prasufi yang terkait dengan al-Qur’an, ritual-ritual inti islam dan
cerita-cerita peristiwa mi’raj Muhammad SAW.
2. Fase
periode awal sufi meliputi ungkapan dan tulisan para guru sufi awal, seperti Hasan (basrah), Dhunun (mesir), Rabi’ah (basrah), Bistami, muhasibi, dan Junayd
(bagdad), serta sejumlah tulisan para sufi yang cukup besar sampai di
tangan kita dari para penulis setelah generasi mereka. Fase ini merentang dari
masa Hasan (basrah) (W. 110 H/728 M) hingga masa Niffari (W. 354 H/965 M).
3. Fase
pembentukan pemikiran sufi yang menunjukkan, bahwa sufi bentuk kesadaran diri
akan spiritualitas meliputi semua aspek kehidupan dan masyarakat. Fase ini
dimulai dengan masa Sirraj (W. 378
H/988 M) meluas ke masa Qushairy (W.
465 H/1074 M).
4. Fase
karya-karya sintesis sufi pada abad ketujuh islam oleh ‘ Athar
Rumi (W. 672 H/1273 M) dan Ibn ‘
Arabi (W. 638 H/1240 M).[5]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Pengertian
Tasawuf
Pengertian tasawuf menurut bahasa adalah shuffah
yang berarti serambi tempat duduk. Sedangkan pengertian tasawuf menurut istilah
adalah mengambil sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah.
2.
Sejarah
Munculnya Tasawuf
Sejarah munculnya tasawuf adalah
bagian dari ajaran zuhud dalam
islam. Yaitu lebih berkonsentrasi dalam pedekatnan diri pada Allah SWT dengan
ketaatan dan ibadah.
3.
Sejarah
Berkembangnya Tasawuf
Tasawuf
berawal dari masa khalifah, Namun
pada saat itu hanya tersirat tanpa ada teori dan lebih ke tingkah perbuatan sehari-hari. Abad selanjutnya mulai dibentuk aturan-aturan
prinsip-prinsip tentang tasawuf . terbukti dengan adanya aliran tasawuf sunni dan semifilosofis.
DAFTAR PUSTAKA
Amril M, Akhlak Tasawuf. (Bandung:
PT Refika Aditama 2015).
Anwar, Rosihon, Akhlak
Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setiia 2010).
Mustofa, Akhlak Tasawuf.
(Bandung: Pustaka Setia 1997).
Qusyairi
Ismail. A, Triologi Ahlusunah. (Pasuruan: Pustaka Sidogiri, 2012).
Muchlis Solichin, Mohammad. Akhlak
dan Tasawuf. (Surabaya: Buku Pena Salsabila, 2014).
[1]
Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak
dan Tasawuf, (Surabaya: Buku Pena Salsabila, 2014), hlm. 109.
[2]
A.Qusyairi Ismail, Triologi
Ahlusunah, (Pasuruan: Pustaka Sidogiri, 2012), hlm. 272.
[3]Rosihon
Anwar, Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia 2010), hlm. 177.
[5]
Amril M., M.A. Akhlak Tasawuf., (Bandung: PT Refika Aditama
2015), hlm. 33-35.

Komentar
Posting Komentar