TASAWUF AKHLAKI: KONSEP DAN TOKOHNYA
MAKALAH
Disusun Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akhlak Tasawuf
Yang Diampu Oleh
Bapak Moch. Cholid Wardi, M.H.I
Disusun Oleh:
1.
Alivia
Meisda Salwa (18383022021)
2.
Bella
Tri Maulidia (18383022034)
3.
Devi
Monica Febyana (18383022045)
4.
Endang
Halifatur Riskiyah (18383022058)
5.
Fitriyah
Yuliyanti (18383022071)
6.
Windy
Eka Febiani (18383022193)
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARI’AH
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
2018
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah kami panjatkan pada-Nya yang telah
memberikan kesehatan dan sekaligus memberikan kesempatan kepada kami untuk
menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Akhlak Tasawuf dengan tema Tasawuf
Akhlaki: Konsep dan Tokohnya.
Dalam pembuatan mengerjakan makalah ini kami telah berusaha semaksimal mungkin
agar dosen dan para pembaca mengerti, sehingga para pembaca dapat memahami
dengan isi dan maksud dari pembuatan makalah kami, yang Insya Allah SWT dapat
bermanfaat didunia dan bagi kami sendiri bisa bermanfaat diakhirat nantinya.
Sebagai penulis kami sadar bahwa apa yang kami
pikirkan dan apa yang kami lakukan itu benar, apa yang kami buat tidak
sepenuhnya sempurna. Pasti didalamnya ada krikil-krikil kecil yang bisa
menghambat kesempurnaan hasil makalah ini, sehingga tidak ada yang bisa kami
lakukan untuk membuang krikil-krikil itu kecuali dengan ucapan maaf dan kami
mengharapkan kritikan dan saran bagi para pembaca untuk kesempurnaan pembuatan makalah
yang selanjutnya.
Pamekasan, 28 November
2018
Penulis
DAFTAR
ISI
COVER..................................................................................................................... i
KATA
PENGANTAR............................................................................................ 2
DAFTAR
ISI............................................................................................................ 3
BAB
I PENDAHULUAN....................................................................................... 4
A. Latar Belakang............................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 5
C. Tujuan............................................................................................................. 5
Bab
II PEMBAHASAN.......................................................................................... 6
A. Pengertian Tasawuf Sunni/Akhlaki.............................................................. 6
B. Perbaikan Akhlak.......................................................................................... 6
C. Ajaran Dan Tokoh Tasawuf Sunni/Akhlaki............................................... 7
BAB
III PENUTUP................................................................................................. 17
A. Kesimpulan..................................................................................................... 17
B. Saran................................................................................................................ 17
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................. 18
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ilmu tasawuf bertugas
membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian
dengan hati, yaitu cara-cara Ikhlas, Khusyuk,
Tawadhu', Murqabah, Sabar, Ridha, Tawakkal dan seluruh sifat yang terpuji
yang berjalan dengan hati. Jadi, sasaran ajaran Tasawuf ialah akhlak dan budi pekerti yang berdasarkan kasih dan
cinta kepada Allah Swt. Oleh karena itu, maka ajaran tasawuf sangat mengutamakan adab/nilai cara, baik dalam hubungan
antar manusia maupun dengan Allah Swt. [1]
Ajara-ajaran para tokoh
Shufi Sunni/Akhlaki menyangkut
keseluruhan akhlak yang diajarkan oleh Al Qur'an dan Hadits. Oleh karena itu,
jelaslah ajaran Tasawuf Sunni/Akhlaki
adalah Tasawuf yang ajarannya bersumber dari Nash-Nash Al Qur'an dan Al Hadits.
Ajaran inilah yang dipraktekkan oleh Rasulullah dan sahabatnya, yang
dilanjutkan oleh para Tabi'in dan para ulama terdahulu. Tasawuf Sunni/Akhlaki berdasarkan ajarannya sesuai dengan misi
diutusnya Rasulullah, yaitu untuk memperbaiki akhlak manusia yang sempurna.[2]
Menilai cara hidup
ialah dengan nilai tasawuf. Jadi nilai-nilai cara hidup dan kehidupan dalam
hubungan dengan sesama manusia terutama hubungan dengan Allah Swt, maka
aspek-aspek tasawuf sangat mempunyai peranan penting. Bahwa aspek-aspek tasawuf
mempunyai peranan penting dalam memperkuat segi-segi aqidah dan dalam
memperdalam rasa Ketuhanan Yang Maha Esa. Demikian pula aspek-aspek tasawuf
yang merupakan daya pendorong yang kuat dalam menjalankan syariat Islam.
Demikianlah pentingnya
aspek-aspek tasawuf dalam melakukan segi-segi aqidah dan syariah
sehingga orang yang tidak beradab dalam melakukan syariah, seumpama dalam
sholat atau beribadah kepada Allah Swt lantas tidak beradab, maka ia dikenal
sebagai orang "Fasik".
Dalam hal ini Ahli-ahli Tasawuf mengatakan :
ان بعدالعبد من ربه انما هو بسوء اد به
"Bahwa sesungguhnya seorang hamba
menjadi jauh dari Allah swt, hanya karena dia tidak baik adabnya".
B.
Rumusan Masalah
Dari uraian diatas dapat disimpulkan beberapa masalah, sebagai
berikut.
1.
Apa yang
dimaksud dengan ajaran Tasawuf Sunni/Akhlaki?
2.
Siapa saja
tokoh/ shufi yang menjelaskan tentang Ilmu Tasawuf?
3.
Apa saja isi
dari Ilmu Tasawuf Akhlaki tersebut?
4.
Bagaimana
Ajaran-ajaran Ilmu Tasawuf Akhlaki setiap para shufi/tokoh?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas penulis dapat menyimpulkan
tujuan, sebagai berikut.
1.
Mengetahui apa
itu ajaran Tasawuf Sunni/Akhlaki
2.
Mengetahui tokoh/
shufi yang menjelaskan tentang ilmu Tasawuf.
3.
Mengetahui serta
memahami isi dari Ilmu Tasawuf Akhlaki tersebut.
4.
Mengetahui dan
dapat memaparkan Ajaran-ajaran Ilmu Tasawuf Akhlaki setiap para shufi/tokoh di
kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tasawuf
Sunni/Akhlaki
Ajara-ajaran para tokoh Shufi Sunni/Akhlaki menyangkut keseluruhan
akhlak yang diajarkan oleh Al Qur'an dan Hadits. Oleh karena itu, jelaslah
ajaran Tasawuf Sunni/Akhlaki adalah tasawuf
yang ajarannya bersumber dari nash-nash Al Qur'an dan Al Hadits. Ajaran inilah
yang dipraktekkan oleh Rasulullah dan sahabatnya, yang dilanjutkan oleh para
Tabi'in dan para ulama terdahulu. Tasawuf
Sunni/Akhlaki berdasarkan ajarannya sesuai dengan misi diutusnya
Rasulullah, yaitu untuk memperbaiki akhlak manusia yang sempurna.[3]
B.
Perbaikan
Akhlak
Dalam usaha menyikap hijab yang membatasi
diri dengan Allah SWT oleh kaum shufi/tasawuf telah membuat suatu sistem yang dinamakan : takhalli, tahalli, tajalli. Sistem mana
dipakai dalam latihan-latihan dan mujahadah/berjuang
untuk mensuci bersihkan diri dari segala sifat-sifat yang tercela dan
menghiasinya/membina diri dengan segala sifat-sifat yang terpuji dalam rangka
memperbaiki akhlak. Dalam buku kimyaus-saadah al-gazali berkata : "bahwa tujuan
perbaikan akhlak itu, ialah untuk membersihkan qalbi dan kotoran-kotoran hawa
nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci bersih. Bagaikan cermin yang dapat
menerima nur cahaya allah."
Maka untuk mencapai tujuan "liqa" itu membutuhkan
latihan-latihan dan perjuangan, perjuangan untuk mensuci bersihkan diri,
perjuangan memperbaiki akhlak secara terus-menerus sampai akhir hayat.[4]
C.
Ajaran dan
Tokoh Tasawuf Sunni/Akhlaki
1.
Al Ghazali
Nama
lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Nama Al-Ghazali
diambil dari nama sebuah tempat Al-Gazali dilahirkan. Beliau lahir pada tahun 1059
M/450 H di Gazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat kota Tus di
Kurasan, Iran. Di kota yang sama, Al-Gazali wafat setelah lebih dahulu mengembara,
pada tahun 1.111 M/505 H.
Yang menarik
perhatian dari seluruh perjalanan Al-Ghazali adalah kehausannya akan segala
macam ilmu pengetahuan dan keinginannya untuk mencapai keyakinan dan mengetahui
segala hakikat. Oleh karena itu, Al-Gazali selalu bersikap kritis yang kemudian
membuatnya bersikap skeptic terhadap semua ilmu pengetahuan indrawi. Begitulah
kegelisahan yang menimpa Al-Ghazali. Indra dan akal pikirannya berjalan tak
menentu dalam keraguan yang belum menemukan jawabannya. Tuntunannya tidak hanya
dapat dijumpai dalam buku-buku fiqih, tetapi harus dirasakan dalam lubuk
hati dan perasaan yang lebih dalam. Sebagai contoh, ketika Al-Gazali membicarakan soal kesucian (thoharah), Al-Gazali mengatakan bahwa thoharah itu tidak berarti
membersihkan badan secara fisik saja, sementara batiniah-nya masih. Menurutnya, thoharah yang
sebenarnya mempunyai beberapa arti, antara lain :
b. Membersihkan anggota badan dari noda dan
dosa.
c. Membersihkan diri dari akhlak tercela.
d. Membersihkan pribadi dari sesuatu yang
selain Allah.
Mengenai kejahatan/kemaksiatan menurut
Al Gazali ada dua macam:
1.
Maksiat Lahir
Maksiat lahir
biasanya dikerjakan oleh anggota badan manusia dapat melahirkan
kejahatan-kejahatan dalam masyarakat seperti mencuri, merampok, menganiaya,
membunuh, berjudi, korupsi, dan lain-lain yang dapat diperbuat oleh tangan.
Begitu pula mengenai kejahatan yang dibuat oleh mulut: memaki, membicarakan aib
seseorang, menipu, mengingkar janji, dan lain-lain. Demikian pula
kejahatan/kemaksiatan yang dilakukan oleh mata, telinga, kaki, dan kemaluan
yang menjadi pusat syahwat.
2.
Maksiat Batin
Maksiat batin diperbuat oleh
"Latiha-Latifah" yang ada pada diri manusia, dapat melahirkan
kejahatan-kejahatan yang dapat merusak masyarakat. Kerakusan yang hanya untuk
membuat puas keinginan nafsu belaka, seperti makan dan minum berlebih-lebihan dapat
memperbesar syahwat nafsu untuk
mengumpulkan harta benda yang tidak terbatas apakah halal atau haram.[6]
Filsafat etika Al-Ghazali berangkat dari teori tasawufnya dengan
semboyan yang terkenal At- Takhalluq Biakhlaaqillah. Maksudnya adalah agar manusia sejauh
kesanggupannya meniru perangai dan sifat-sifat ketuhanan seperti Pengasih,
Penyayang, Pengampun, dan sifat-sifat yang disukai allah seperti sabar, jujur, takwa,
zuhud, ikhlas beragama, dan lain sebagainya. Al-Ghazali melihat bahwa
sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan rasa taqarrub
kepada Allah swt. Menurut Al-Gazali kebaikan itu tersebar dimana-mana, juga
terdapat dalam materi. Hanya saja pemakaiannya perlu disederhanakan, kurangi
nafsu dan jangan berlebihan. Mengenai cara taqarrub pada allah, Al-Ghazali memberikan beberapa jalan latihan yang langsung
mempengaruhi rohani, diantaranya yang terpenting adalah muraaqobah,
yakni merasa diawasi secara terus menurus oleh allah, dan muhaasabah, yakni senantiasa
mengoreksi diri.
2. Hasan Al Basri
Imam shufi yang pertama di dalam sejarah islam yaitu Hasan Al Basry
seorang ulama besar Tabiin, adalah murid pertama Huzifah Bin Al Yamani dan
adalah keluaran dari madrasah yang pernah didirikan oleh Huzifah Bin Al Yamani[7]. Nama lengkap Hasan Al Basry ialah Abu Sa’id Al Hasan Bin Yasar.
Hasan Al Basry dilahirkan pada tahun 21 H dimadinah pada tahun 632 M, dan wafat
pada 728 H.
Menurut Abu Thalib Al Makky : “Hasan Al Basry adalah orang yang
pertama kali membawa jalan-jalan ilmu Tasawwuf ini dan mempraktekan serta
berbicara menguraikan maksud Tasawwuf dan Hasan Al Basry yang mengajarkan
cahaya-cahaya Ilmu Tasawwuf itu sehingga terbuka dengan terangnya”.
[8]Hasan Al Basry seorang zahid yang dapat bertemu dengan 70 sahabat.
Hasan Al Basry sangat memberikan perhatian kepada persoalan akhlak, ilmu-ilmu
kebathinan, dan penyucian hati di masjid Bashrash, Irak. Hasan Al Basry memulai
pendidikan di Hijaz, dan berguru kepada ulama-ulama yang tinggal disana.
Selanjutnya Hasan Al Basry bersama orangtua-nya pindah ke Bashrash, sebuah kota
yang membawa kemasyhurannya sehingga menjadikannya mendapatkan nama Hasan Al
Basry.
Hasan Al Basry dikenal sebagai seorang zahid, yang tidak mencintai
dunia sedikitpun. Disamping itu dikenal sebagai seorang yang wara’, yaitu sikap yang sangat
berhati-hati dalam mengamalkan ajaran islam. Disamping iti dikenal sebagai
seorang yang mempunyai keberanian dalam menyampaikan kebenaran.
Hasan Al Basry dikenal sebagai tokoh yang mengadakan gerakan moral
untuk memprotes pola hidup Khalifah Umayah yaitu Yazid Bin Muawiyah yang sangat
bermewah-mewah, bergelimang dengan kesenangan duniawi, dan berperilaku
sewenang-wenang dalam menjalakn pemerintahan. Kelebihan Hasan Al Basry
setidaknya diungkapkan oleh Abu Qatadah, yang menytakan “Bergurulah kepada Syekh
ini. Saya telah saksikan sendiri keistimewaannya. Tidak seorang Tabiin yang
menyerupai sahabat Nabi selain dirinya.
Diantara
ajaran Hasan Al Basry :
1)
Persaan takut
dalam hati yang menyebabkan hati tenang lebih utama dari pada perasaan yang
tenang mengakibatkan hati yang takut.
2)
Dunia adalah
tempat beramal.
3)
Tafakkur membawa kita
kepada kebaikan dan selalu berusaha untuk mengerjakannya.
4)
Banyak perasaan
duka didunia yang mengakibatkan dan memperteguh amal kebaikan (sholeh).
3.
Al Muhasibi
Nama
lengkapnya adalah abu harith bin asad al muhasibi. Al muhasibi adalah seorang
tokoh shufi yang banyak mengamati berbagai fenomena dimasyarakat muslim. Dalam
pandangannya, seseorang akan mendapatkan keselamatan diakhirat dengan melakukan
ketaatan dan ketakwaan serta meneladani pola perilaku nabi Muhammad saw. Al Muhasibi terkenal dengan ajaran ma’rifahnya.
Dari segi
bahasa ma’rifah berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifah, yang
artinya pengetahuan dan pengalaman. Dari akar ini, ma’rifah dapat dimakna
sebagai pengetahuan tentang rahasia dan hakikat ketuhanan. Istilah ma’rifah
berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan
pengalaman tasawuf, maka istilah ma’rifah disini berarti mengenal allah
mengenal shufi mencapai maqam dalam tasawuf.
1.
Seseorang harus menjalani ketaatan kepada allah, yang
hal itu merupakan ungkapan kecintaan kepada allah. Dengan keintaan hamba kepada
allah maka hatinya akan tersinari cahaya allah.
2.
Hati yang tersinari itu akan mengakibatkan
tersingkapnya ilmu dan hal-hal ghaib.
3.
Sang shufi mengalami
fana’ wa al baqa dan pada tahap akhir, sang shufi mengalami ma’rifah.
4.
Al Qusyairi
Al Qusyairi adalah
tokoh Shufi yang terpenting abad ke-5 Hijriyah, nama lengkapnya dalah Abdul
Karim Bin Khawazin, lahir pada tahun 376 di Istawa, di Naisafur, yang merupakan
pusat intelektual pada saat itu. Beliau berguru kepada Abu 'Ali Al Daqqak dalam
ilmu tasawuf, sedangkan dalam ilmu Fiqih, Al Qusyairi berguru kepada Abu Bakar
Muhammad Bin Abu Bakar Al Thusi. Ajaran-ajaran tasawuf Sunni/Akhlaki lebih
menekankan kepada penyucian hati yang dikenal dengan tazkiyat al nafs
yaitu upaya membersihkan hati.
Tazkiyat al nafs
adalah konsep dalam ilmu tasawuf yang berarti penyucian jiwa dalam ayat-ayat
sebagai berikut :
|
144
|
|
154
|
"Sesungguhnya
beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia mengingat
nama allah, lalu dia sembahyang." (qs. Al 'ala : 14-15).[10]
Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa tazkiyat al nafs adalah
menambah kebaikan dan keberkatan serta menghilangkat kotoran hati. Dengan
bahasa lain bahwa tazkiyat al nafs merupakan upaya menyucikan hati dari
kotoran-kotoran dan penyakit hati.
Dalam ilmu tasawuf, tazkiyat al nafs dilakukan melalui
tahapan-tahapan sebagai berikut :
1.
Takhalli, yaitu upaya
mengosongkan diri dari sifat-sifat yang buruk/ tercela (Madzmumah). Salah satu akhlak adalah yang paling banyak
menyebabkan munculnya akhlak jelek lainnya adalah ketergantungan kepada
kenikmatan duniawi. Hal ini dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari
kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa
nafsu.[11]
Menurut
ahli tarekat, ada 4 dinding/hijab yang mendiri dengan allah, tetapi ada 4
tingkat pula yang dapat memdinding/hijab itu:
a. Tingkat pertama: suci dari najis dan
hadas
1)
Dalam
membersihkan diri dari najis, maka seseorang wanita beristinja/bersuci dengan
air atau tanah.
2)
Dalam
mensucikan diri dari hadas besar (keluar) seorang wajib mandi istilah syariah dinamakan mandi.
3)
Dalam
mensucikan diri dari hadas kecil, seseorang wajib berwudhu.
b. Tingkat kedua: mensucikan diri dari
dosa lahir
Ada 7 anggota badan yang membuat dosa lahir
yang disebut “maksiat”yaitu:
1)
Mulut
yang biasa dusta atau ghibah.
2)
Mata
yang biasa melihat yang haram.
3)
Telinga
yang biasa mendengar cerita kosong.
4)
Hidung
yang biasa menimbulkan rasa benci.
5)
Tangan
yang biasa merusak.
6)
Kaki
yang biasa berjalan berbuat maksiat.
7)
Kemaluan
yang biasa bersyahwat atau berjina(termasuk yang biasa diisi makanan haram).
Oleh karena itu, seseorang sebelum
memperhubungkan diri dengan Tuhan, maka ia perlu berwudhu.
c. Tingkat ketiga: suci dari dosa
bathin
Ahli Shufi menerangkan bahwa ada 7 alat
pembuat dosa yang dinamakan tujuh Lataif.
1)
Latifatul
Qalby
yang berhubungan jantung jasmani, dua jari dibawah Kiri. Disinilah letaknya
sifat kemusyrikan, kekafiran….ketahayulan dan sifat-sifat iblis. Untuk
mensucikan , ialah berzikir sebanyak banyaknya.
2)
Latifatu
Roh,
letaknya dua jari dibawah susu kanan, berhubungan Roh Jasmani. disinilah
terletak sifat bahimiyah (binatang jinak) yaitu sifat-sifat menuruti hawa
nafsu.
3)
Latifatus-Sirri, letaknya 2 jari diatas susu kiri.
disinilah letaknya sifat "syabiyah" (binatang buas) yaitu sifat-sifat
dhalim atau aniaya, pemarah, pendendam.
4)
Latifatul
Khafi,
letaknya 2 jari diatas susu kanan, dikendalikan oleh limpah jasmani. disinilah
letaknya sifat-sifat pendengki, khianat, sifat syaithaniyah ini membawa kecelakaan
dan kebinasaan dunia serta akhirat.
5)
Latifatul
Akhfa,
ditengah dada berhubungan empedu jasmani. disinilah letaknya sifat Rabbaniyah
yaitu sifat-sifat ria, takabur/sombong.
6)
Latifatun-Nafsun-Natiqam letaknya diantara 2 kening.
disinilah letaknya sifat nafsu amarah.
7)
Latifa
Kullu Jasad,
yaitu latifah yang mengendarai seluruh tubuh jasmani. terletak sifat-sifat
jahil dan ghaflah (sifat-sifat kejahilan dan alfa).
d. Tingkat keempat: mensucikan hati
Rabbaniyah
Maka yang dimaksud Latifatul Qalbi disini,
bukanlah jantung jasmani, tetapi “Latifatur Rabbaniyah”, adalah Roh suci yang
paling halus dan dialah yang memerintah dan mengatur badan dan anggota badan
jasmani.[12]
2.
Tahalli, yaitu upaya
menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak
yang terpuji. Tahapan tahalli
dilakukan oleh kaum Shufi setelah mengosongkan jiwa dengan akhlak jelek. Pada
tahap ini, kaum Shufi berusaha agar setiap sikap dan perilaku selalu berjalan
sesuai dengan ketentuan allah, baik kewajiban yang bersifat ritual, seperti
sholat, puasa dan haji, maupun yang bersifat sosial seperti menjaga lingkungan,
membersihkan lingkungan sekitar dan lain-lain. Sikap-sikap terpuji yang harus
dimiliki seorang shufi seperti zuhud,
tawakkal, shobar, tawadhu', wara', malu berbuat maksiat dan
lain-lain.[13]
pokok-pokok dasar memperbaiki akhlak:
Dalam rangka mengatur tata kehidupan dan penghidupan manusia, Allah
telah meletakkan dasar-dasar pokok akhlak. Maka apabila manusia dibina atas
dasar-dasar pokok tersebut, maka diharapkan terciptanya manusia pembangunan
sebagai pendorong bagi pembangunan. Pembangunan islam telah terlebih dahulu
membangun/membuka mental manusia agar manusia itu menjadi tenaga kekuatan pokok
dan tenaga pendorong bagi pembangunan. Apabila tidak demikian, maka kekuatan
manusia bias menjadi kekuatan untuk alat penghancur dam sifat-sifat partisipasi
menjadi sifat masa bodoh. Dengan demikian, pokok-pokok dasar mengatur tata kehidupan
dan penghidupan manusia .
Kaum shufi mengatur suatu ajaran untuk memperbaiki tata kehidupan
dan penghidupan manusia agar manusia itu menjadi “manusia wara” yang ikhlas
dalam beribadah kepada Allah, ikhlas dalam pengabdian melayani masyarakat dan damai/berpartisipasi
dalam kehidupan. Ajaran itu menurut istilah shufi dinamakan: Takhallil, Tahalli
dan Tajalli. Sistem ajara ini, memerlukan latihan-latihan dan perjuangan dengan
tanjakan-tanjakan dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi, yakni dari
mensuci bersihkan hati ke tingkat yang menyinari hati sampai pendekatan diri
kepada Tuhan dalam keadaan Tajalli.[14]
3.
Tajalli, yaitu terungkapnya nur ghaib. Derajat ini dapat terpercaya dengan
menanamkan kecintaan yang mendalam kepada sang khaliq. Cinta yang dimiliki kaum
shufi kepada allah adalah cinta yang mendalam, tanpa pamrih tidak mengharapkan
balasan surga karena amalnya. Dengan cinta yang demikian maka kan menghasilkan
ma'rifat, yaitu kemampuan "mengetahui atau menyaksikan" kekuasaan dan
kemahaagungan Allah SWT. Ketika tahapan-tahapan penyucian jiwa telah dilakukan
dan seorang shufi telah mencapai derajat tajalli, maka akan mendapat ma'rifah dan dibukunya tabir antara dia dengan allah. Pada tahapan
ini seorang shufi telah mengalami musyahadah
dan mukasyafah, yaitu dia diberi
kemampuan oleh allah untuk dapat menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
dengan mata batinnya serta mendapat kemampuan untuk mengetahui hal-hal ghaib
atas izin Allah SWT. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan karunia yang
paling tinggi disisi allah dan ditempatkan pada derajat yang paling mulia dan
terhormat disisi-nya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu tasawuf
bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti,
bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas,
khusyuk, tawadhu', murqabah, sabar, ridha, tawakkal dan seluruh sifat yang
terpuji yang berjalan dengan hati. Jadi, sasaran ajaran Tasawuf ialah akhlak dan budi pekerti yang berdasarkan kasih dan
cinta kepada Allah Swt. Oleh karena itu, maka jaran Tasawuf sangat mengutamakan
adab / nilai cara, baik dalam hubungan antar manusia maupun dengan Allah Swt.
Di
sini saya sebagai penulis makalah tentang Akhlak Tasawuf saya sangat berharap tinjauan dan revisi anda
sekaligus kritik dan saran anda apabila tanpa sengaja saya kurang tepat dalam
menulis makalah tentang Akhlak Tasawuf ini.
Semoga
dengan adanya makalah tentang Akhlak Tasawuf ini bisa bermanfaat bagi kita semua, apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan, kami selaku
pembuat makalah ini mohon maaf.
DAFTAR PUSTAKA
Solichin,
Mohammad Muchlis. Akhlak dan Tasawuf
Dalam Wacana Kontemporer. Surabaya: Pena Salsabila, Cet. I-II. 2013-2014.
Zahri, Mustafa. Kunci
Memahami Ilmu Tasawuf. Surabaya: PT. Bina Ilmu. Cet. II. 1995.
Tiam, Sunardji Dahri, Historiografi
Filsafat Islam Corak, Periodesasi Dan Aktualisasi, Malang : Intrans
Publishing.
Agus
Hidayatulloh, Lc. M.A, At-Thayyib: Al-Qur'an Transliterasi Per Kata Dan
Terjemahan Per Kata, Siti Irhamah Sail, Lc., ed. Imam Gazali Masykur, Lc., (Bekasi:
Cipta Bagus Segera, T.T), Hlm. 591.
[1] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Cet. 2, (Surabaya:
PT. Bina Ilmu, 1995), hlm. 137-139.
[2] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam Wacana Kontemporer,
Cet. 1-2, (Surabaya: Pena Salsabila,
2013-2014 ), hlm. 130-131.
[3] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam Wacana Kontemporer,
Cet. 1-2, (Surabaya: Pena
Salsabila2013-2014), hlm. 130.
[4] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Cet. 2, (Surabaya:
PT. Bina Ilmu, 1995), hlm. 54.
[5] Sunardji Dahri
Tiam, Historiografi Filsafat Islam Corak, Periodesasi Dan Aktualisasi, (Malang
: Intrans Publishing), hlm.
[6] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Cet. 2, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,
1995), hlm. 68.
[7] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Cet. 2,
(Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1995), hlm. 151.
[8] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam Wacana Kontemporer,
Cet. 1-2 (Surabaya: Pena
Salsabila, 2013-2014), hlm. 140.
[9] Mohammad
Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam
Wacana Kontemporer,Cet. 1-2, (Surabaya:
Pena Salsabila, 2013-2014), hlm. 141.
[10] Agus
Hidayatulloh, Lc. M.A, At-Thayyib: Al-Qur'an Transliterasi Per Kata Dan
Terjemahan Per Kata, Siti Irhamah Sail, Lc., Ed. Imam Gazali Masykur, Lc., (Bekasi:
Cipta Bagus Segera,
[11] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya:
PT. Bina Ilmu), hlm. 64.
[12] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam Wacana Kontemporer,
Cet. 1-2, (Surabaya: Pena
Salsabila, 2013-2014), hlm. 64.
[13] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam Wacana Kontemporer,
Cet. 1-2, (Surabaya: Pena
Salsabila, 2013-2014), hlm. 142-145.
[14] Mohammad Muchlis Solichin, Akhlak dan Tasawuf Dalam Wacana Kontemporer,
Cet. 1-2, (Surabaya: Pena
Salsabila, 2013-2014), hlm. 64.

Komentar
Posting Komentar