TASAWUF ‘IRFANI
MAKALAH
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Tasawuf
yang
diampu oleh Bapak Moch. Cholid Wardi, M.HI
Disusun
Oleh:
1.
IF TAHATUL LAYLI
(18383022079)
2.
IMRO’ATUS SHOLIHAH
(18383022082)
3.
INAYAH WAHYUMI’ RADINA
(18383022083)
4.
KHOLIFATUR RAHMA ALIF
(18383022093)
5.
KINATUR ROHMAH
(18383022094)
6.
ZAIRA SAHARANI PUTRI
(18383022201)
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARI’AH
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
2018
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur pertama penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan nikmat-Nya lah kami diberikan kesempatan untuk dapat menyelesaikan
penulisan makalah ini dengan baik. Tidak lupa pula shalawat dan salam kami
curahkan kepada Rasulullah SAW semoga kita selalu dalam lindungan beliau.
Makalah
yang berjudul “TASAWUF ‘IRFANI” ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata
kuliah Ilmu Tasawuf, Institut Agama Islam Negeri Tahun 2018. Tidak lupa juga kami mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikiran.
Dalam makalah ini, kami
menyadari masih banyak kesalahan serta kerkurangan didalamnya. Maka dari itu
kami mohon saran dan kritik dari teman-teman, khususnya dosen pengampu mata
kuliah Ilmu Tasawuf demi tercapainya makalah yang sempurna.
Pamekasan,
05 Oktobert 2018
Penulis,
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR......................................................... i
DAFTAR
ISI....................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN.................................................. 1
A. LATAR
BELAKANG.................................................... 1
B. RUMUSAN
MASALAH............................................... 1
C. TUJUAN
PENULISAN................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN.................................................... 2
A. PENGERTIAN
TASAWUF ‘IRFANI.......................... 2
B. TOKOH-TOKOH
TASAWUF ‘IRFANI...................... 2
C. AJARAN
TOKOH-TOKOH TASAWUF ‘IRFANI..... 5
BAB
III PENUTUP............................................................ 11
A. KESIMPULAN.............................................................. 11
B. SARAN........................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA.......................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Tasawuf merupakan proses pembelajaran menyaring yang
kotor menjadi yang bersih. Yang dimaksud dengan kotor disini adalah penyakit
hati seperti hasad, riya, takabur, sombong dan sebagainya. Setiap penyakit
pasti memiliki obat, tidak terkecuali penyakit hati. Obat dari penyakit hati
disini seperti dzikir, sholat, mengaji dan sebagainya.
Salah satu
ajaran yang terdapat dalam ilmu tasawuf adalah tasawuf ‘irfani. Tasawuf ‘irfani
adalah tasawuf yang menyikapi kebeneran tidak melalui logika namun melalui
pemberian Allah SWT. Tasawuf ‘irfani memiliki beberapa tokoh sufi terkenal, setiap tokohnya memiliki ajaran dan cara
pandang terhadap tasawuf ‘irfani. Dimana
ajaran dan cara pandang ini sulit dipahami oleh orang awam.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apakah
yang dimaksud tasawuf ‘irfani?
2. Siapa
sajakah tokok-tokoh tasawuf ‘irfani?
3. Bagaimanakah
konsep ajaran dari tokoh-tokoh tasawuf ‘irfani?
C.
TUJUAN
PENULISAN
1. Untuk
mengetahui pengertian tasawuf ‘irfani.
2. Untuk
mengetahui tokoh-tokoh tasawuf ‘irfani.
3. Untuk
mengetahui konsep ajaran dari tokoh-tokoh tasawuf ‘irfani.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
TASAWUF ‘IRFANI
‘Irfani dalam bahasa
Arab adalah bentuk mashdar dari ‘arafa yang artinya ma’rifat, ilmu atau
pengetahuan. Kata tersebut kemudian lebih dikenal dengan terminologi mistis
yang bermakna pengetahuan tentang Tuhan.[1]
Tasawuf irfani
adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau makrifah diperoleh
dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran, tetapi melalui
pemberian Tuhan (mauhibah).[2]
B.
TOKOH-TOKOH
TASAWUF ‘IRFANI
1. Rabi’ah
Al-‘Adawiyah
Nama lengkap
Rabi’ah adalah Rabi’ah bin Ismail Al-‘Adawiyah Al-Bashriyah Al-Qaisiyah. Ia
diperkirakan lahir pada tahu 95 H/713 M
atau 99H/717M di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota
itu pada tahun 185 H/801M. Ia dilahirkan sebagai putri keempat dari keluarga
yang sangat miskin. Itulah sebabnya, orang tuanya menamakannya Rabi’ah. Kedua
orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Konon pada saat terjadinya bencana perang di
Bashrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais
Banu Adwah. Dari sini ia dikenal dengan Al-Qaisiyah atau Al-‘Adawiyah. Pada
keluarga ini ia bekerja keras, namun kemudian dibebaskan karena tuannya melihat cahaya yang memancar diatas
kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang
beribadah.
Setelah
dimerdekakan tuannya, Rabi’ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai
seorang zahidah dan sufiah. Ia
menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak tobat dan menjauhi hidup
duniawi.[3] Ia
hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh
orang lain kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang
bersifat materi dari Allah.[4]
Bagi Rabi’ah,
satu-satunya yang penting dan berarti baginya adalah kekhusyukan dalam melebur
dirinya dengan Allah, meletakan semua harapannya pada Allah dan meleburkan
dirinya dalam puji-Nya. Shalat malam baginya menjadi percakapan yang manis dan
membahagiakan antara ia dan kekasihnya.[5]
2.
Dzu Al-Nun Al-Mishri
Dzu An-Nun Al-Mishri adalah nama julukan bagi seorang
sufi yang tinggal di sekitar pertengahan abad ketiga Hijriah. Nama lengkapnya
Abu Al-Faidh Tsauban bin Ibrahim. Ia dilahirkan di Ikhnim, dataran tinggi
Mesir, pada tahun 180H/796M dan wafat pada tahun 246H/856M. Julukan Dzu An-Nun
diberikan kepadanya sehubungan dengan berbagai kekeramatannya yang Allah
berikan kepadanya. Di antaranya ia pernah pernah mengeluarkan seorang anak dari
perut buaya di sungai Nil dalam keadaan selamat atas permintaan ibu dari anak
tersebut.
Asal mula Al-misri tidak banyak diketahui, tetapi
riwayatnya sebagai seorang sufi banyak diutarakan. Dalam perjalan hidupnya
Al-Misri selalu berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Ia pernah
menjelajah berbagai daerah di Mesir,
mengunjungi Bait Al-Maqdis, Baghdad, Mekah, Hijaz, Syria, Pegunungan Libanon,
Anthokiah, dan Lembah Kan’an. Hal ini memungkinnya untuk memperoleh pengalaman
yang banyak dan mendalam.[6]
3.
Abu Yazid Al-Bustami
Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin
Surusyan Al-Bustami, lahir di daerah Bustam (Persia) tahun 874-947M. Nama
kecilnya adalah Taifur. Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama
Zoroaster, kemudian masuk dan menjadi pemeluk islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid
termasuk berada di daerahnya, tetapi ia lebih memilih hidup sederhana. Sejak
dalam kandungan ibunya, konon katanya
Abu Yazid telah mempunyai kelainan. Ibunya berkata bahwa ketika dalam perutnya,
Abu Yazid akan memberontak sehingga ibunya muntah kalau menyantap makanan yang
diragukan kehalalannya.[7]
Perjalanan
Abu Yazid untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum
membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu telah menjadi
seorang fakih dari mahzab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah
Abu Ali As-Sindi. Ia mengajarkan ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu lainnya
kepada Abu Yazid.[8]
Dalam
menjalankan kehidupan zuhud, selama
13 tahun, Abu Yazid mengembara di
gurun-gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit
sekali.[9]
4.
Abu Manshur Al-Hallaj
Nama lengkap Al-Halaj adalah Abu Al-Mughist Al-Husain bin
Manshur bin Muhammad Al-Baidhawi, lahir di Baida, sebuah kota kecil diwilayah
Persia, pada tahun 244H/855M. Ia tumbuh dewasa dikota Wasith, dekat Baghdad.[10]
Dalam semua perjalanan dan pengembaraannya ke berbagai kawasan islam, seperti Khurasan,
Ahwaz, India, Turkistan, dan Mekah. Al-Hallaj telah banyak memperoleh pengikut.
Ia kemudian kembali ke Baghdad pada tahun 296H/909M. Dikota ini pengikutnya
semakin bertambah banyak karena kecaman-kecamannya terhadap kebobrokan
pemerintah yang berkuasa pada waktu itu.
Al-Hallaj
selalu mendorong sahabatnya melakukan perbaikan dalam pemerintahan dan selalu
melontarkan kritik terhadap penyelewengan-penyelewangan yang terjadi. Gagasan
“pemerintahan yang bersih” dari Nasr Al-Qusyairi dan Al-Hallaj ini jelas
berbahaya karena khalifah boleh dikatakan tidak memiliki kekuasaan yang nyata
dan hanya merupakan lambang saja. Pada wakttu yang sama, aliran-aliran
keagamaan dan tasawuf tumbuh dengan
subur. Hal ini membuat pemerintah sangat khawatir terhadap kecaman-kecamannya
yang sangat keras dan pengaruh sufi kedalam struktur politik.
Oleh
karena itu ucapan Al-Hallaj “ana Al-haqq”,
yang tidak dapat dimaafkan para ulama
fiqih dan dianggap sebagai ucapan kemurtadan, dijadikan alasan untuk
menangkapnya dan memenjarakannya. Setahun kemudian ia dapat meloloskan diri
dari penjara berkat pertolongan sipir penjara, tetapi empat tahun kemudian ia
tertanggap lagi di kota Sus.[11]
Setelah dipenjara selama delapan tahun,
Al=Hallaj dihukum gantung. Lalu dipenggal kepalanya. Namum sebelum dipancung,
ia meminta shalat dua rakaat. Setelah selesai shalat, kaki dan tangannya
dipotong, badannya digulung dalam tikar bamboo lalu dibakar dan abunya dibuang
ke sungai, sedangkan kepalanya dibawa ke Khurasan untuk dipertontonlan. Dan
akhirnya Al-Hallaj wafat pada tahun 922M.[12]
C.
AJARAN TOKOH-TOKOH TASAWUF ‘IRFANI
1.
Rabi’ah Al-‘Adawiyah
Rabi’ah Al-‘Adawiyah, dalam perkembangan mistisisme dalam islam tercatat sebagai
peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Rabi’ah pula yang
pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang
berdasarkan permintaan ganti dari Allah. Sikap dan pandangan Rabi’ah
Al-‘Adawiyah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung
maupun yang disandarkan kepadanya. Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika
bermunajat, Rabi’ah menyatakan dodoanya “Tuhanku,
akankah kau bakar kalbu yang mencintai-Mu oleh api neraka?” tiba-tiba
terdengar suara “Kami tidak akan
melakukan itu. Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami”.
Di
antara sya’ir cinta Rabi’ah yang paling masyhur adalah:
“Aku
mencintai-Mu dengan dua cinta,
cinta
karena diriku dan karena diri-Mu.
Cinta
karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan-Mu.
Cinta
karena diri-Mu
adalah
keadaanku mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat.
Baik
ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
Bagi-Mu
pujian untuk kesemuanya”.
Al-Ghazali
memberikan ulasan tentang sya’ir Rabi’ah sebagai berikut,
“Mungkin yang dimaksud oleh Rabi’ah dengan
cinta kerena dirinya adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya
di dunia ini. Sedangkan cinta kepada-Nya adalah karena Ia layak dicintai
keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap kepadanya. Cinta yang kedua
merupakan cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan
melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan dalam hadis qudsi, “Bagi
hamba-hamba-Ku yang saleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak
terdengar telinga, dan tidak terbesit dikalbu manusia”.[13]
Cinta Rabi’ah
kepada Allah begitu mendalam dan memenuhi seluruh relung hatinya, sehingga
membuatnya hadir bersama Allah. Hal ini terungkap dalam sya’irnya:
“Kujadikan kau teman berbincang dalam kalbu.
Tubuhku
pun biar berbincang dengan temanku.
Dengan
temanku tubuhku bercengkrama selalu.
Dalam kalbu terpancang selalu kekasih cintaku.”
Bagi manusia
yang rasa cintanya kepada Allah tidak secara tulus ikhlas, Rabi’ah selalu mengatakan:
“Dalam batin, kepada-Nya engkau durhaka,
tetapi
dalam lahir kau nyatakan cinta.
Sungguh
aneh gejala ini.
Andaikan
cinta-Mu memang tulus dan sejati tentu yang Ia perintahkan kau taati,
sebab
pecinta selalu patuh dan bakti pada yang dicintai.”[14]
2.
Dzu Al-Nun Al-Mishri
a.
Pengertian Ma’rifat Menurut
Dzu Al-Nun Al-misri
Al-Misri adalah pelopor paham ma’rifat. Ia membedakan antara ma’rifat
sufiah dengan ma’rifat aqliyah.
Ma’rifat yang pertama menggunakan pendekatan qalb yang biasa digunakan para sufi, sedangkan ma’rifat yang kedua
menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan para teolog. Kedua, menurut
Al-Misri, ma’rifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiyah (penyaksian hati),
sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak azali.
Ketiga, teori-teori ma’rifat Al-Misri menyerupai gnosisme dan Neo-Platonik.
Teori-teorinya itu kemudian dianggap sebagai jembatan menuju teori-teori wahdat asy-syuhud dan ittihad. Ia pun dipandang sebagai orang
yang pertama kali memasukan unsur falsafah dalam tasawuf.
Berikut beberapa pandangan Al-Mishri tentang hakikat ma’rifat:
a.
Sesungguhnya ma’rifat yang hakiki bukanlah ilmu tentang keesaan Tuhan,
sebagaimana yang dipercayai orang-orang mukmin, bukan pula ilmu-ilmu burhan dan nazhar milik para hakim, mutakalimin, dan ahli balaghah, tetapi
ma’rifat terhadap keesaan tuhan yang khusus dimiliki para wali Allah. Hal ini
karena mereka adalah orang yang menyaksikan Allah dengan hatinya, sehingga
terbukalah baginya apa yang tidak dibukakan untuk hamba-hamba-Nya yang lain..
b.
Ma’rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari
hatimu dengan cahaya ma’rifat yang
murni seperti matahari tak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya. Salah
seorang hamba mendekat kepada Allah sehingga ia merasa hilang dirinya, lebur
dalam kekuasaan-Nya mereka merasa hamba, mereka bicara dengan ilmu yang telah
diletakan Allah pada lidah mereka, mereka melihat dengan penglihatan Allah,
mereka berbuat dengan perbuatan Allah.[15]
Kedua pandangan Al-Mishri diatas menjelaskan bahwa ma’rifat kepada Alla tidak dapat
ditempuh melalui pendekatan akal dan pembuktian-pembuktian, tetapi dengan jalan
ma’rifat batin, yakti Tuhan menyinari
hati manusia dan menjaganya dari kecemasan, sehingga semua yang ada didunia ini
tidak mempunyai arti lagi.[16]
Dalam perjalanan rohani, Al-Mishri mempunyai sistematika
sendiri tentang jalan menuju ma’rifat.
Dari teks-teks ajarannya, Abdu Al-Hamid Mahmud Mencoba menggambarkan
sistematika Al-Mishri sebagai berikut:
a.
Ketika ditanya tentang siapa sebenarnya orang bodoh itu, Al-Mishri
menjawab, “Orang yang tidak menganal jalan menuju Allah dan tidak ada usaha
untuk mengenal-Nya.”
b.
Al-Mishri mengatakan bahwa jalan itu ada dua macam, yaitu Thariq Al-inabah, adalah jalan yang
harus dimulai dengan cara yang ikhlas dan benar, dan Thariq Al-ihtiba’, adalah jalan yang tidak mensyaratkan apa-apa
pada seseorang karena merupakan urusan Allah semata.
c. Disisi lain Al-Mishri menyatakan bahwa
manusia itu ada dua macam, yaitu Darij
dan Wasil. Darij adalah orang yang berjalan menuju jalan iman, sedangkan Wasil adalah orang yang berjalan
(melayang) di atas kekuatan ma’rifat.[17]
c. Pandangan Dzu An-Nun Al-Mishri tentang
Maqamat dan Ahwal
Secara
bahasa, maqamat (jama’ dari maqam) berasal dari Bahasa Arab yang
berarti tidak berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan
untuk arti sebagai jalan yang harus dilalui oleh kaum Sufi untuk mencapai derajat
yang dekat dengan Allah.[18]
Pandangan
Al-Mishri tentang maqamat,
dikemukakan pada beberapa hal saja, yaitu At-taubah,
Ash-shabr, At-tawakal, dan Ar-rida.
Menurut
Al-Mishri, ada dua macam tobat, yaitu tobat awas dan tobat khawas. Orang awam
bertobat karena kelalaian (dari mengingat tuhan).[19]
Keterangan Al-Mishri tentang maqam ash-shabr dikemukakan dalam bentuk
kepingan dialog dari sebuah riwayat. “Suatu ketika ia menjenguk orang yang
sakit. Ketika orang yang sakit itu merintih, Al-Mishri berkata, “Tidak termasuk
cinta yang benar bagi orang yang tidak bersabar dalam menghadapi cobaan Tuhan.”
Orang yang sakit itu kemudian menimpali, “Tidak benar pula cintanya orang yang
merasakan kenikmatan dari suatu cobaan.”
Al-Mishri
mendefinisikan maqam at-tawakal
sebagai berhenti memikirkan diri sendiri dan merasa memiliki daya dan kekuatan.
Intinya adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah disertai perasaan tidak
memiliki kekuatan.
Ketika
ditanya tentang ar-rida, Al-Mishri
menjawab bahwa ar-rida adalah kegembiraan hati menyambut ketentuan Tuhan
baginya. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qannad, yang
mengatakan bahwa rida itu adalah ketenangan hati dengan berlakunya ketentuan
Tuhan.[20]
Ahwal adalah jama’ dari hal yang berarti “keadaan.” Hal adalah keadaan atau peristiwa yang
dialami oleh kaum sufi ketika ia menempati maqam
tertentu. Hal datang dengan sendirinya, datang dan pergi tanpadiketahui
waktunya. Dengan demikian haladalah pemberian dari Allah ketika, sang sufi
menapaki jalan menuju Allah.[21]
Berkenaan dengan
ahwal, Al-Mishri menjadikan muhabbah (cinta kepada Tuhan) sebagai urutan
pertama. Menurutnya,tanda-tanda orang yang mencintai Allah adalah mengikuti
kekasih-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW. dalam hak akhlak,
perbuatan, segala perintah, dan sunahnya.[22]
3.
Ajaran Tasawuf Abu
Yazid
Ajaran
tasawuf terpenting Abu Yazid adalah fana’
dan baqa’. Dari segi bahasa, fana’ berasal dari kata faniya yang berarti musnah atau lenyap.
Dalam istilah tasawuf, fana’
adakalanya diartikan sebagai keadaan moral yang luhur.[23]
Pencapaian
Abu Yazid ketahap fana’ dicapai
setelah meninggalkan segala keinginana selain keinginan kepada Allah, seperti
dampak dalam ceritanya.
“Setelah Allah
menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam,aku mendengar puas dari-Nya. Maka,
diriku dicap dengan keridaan-Nya. Mintalah kepada-Ku semua yang kau inginkan,
kata-Nya. “Engkaulah yang aku inginkan,” jawabku “ karena Engkau lebih utama
dari anugerah, lebih besar daripada kemurahan, dan melalui Engkau aku mendapat
kepuasan dalam diri-Mu…”
Adapun baqa’, berasal dari kata baqiya.
Arti dari segi bahasa adalah tetap, sedangkan dalam istilah tasawuf berarti
mendirikan sifat-sifat terpuji kepada Allah. Paham baqa’ tidak dapat dipisahkan dengan paham fana’ karena keduanya merupakan paham yang berpasangan. Ketika
seorang sufi sedang mengalami fana’,
ketika itu juga ia sedang menjalani baqa’.[24]
Tahapan selanjutnya yang dialami oleh
seorang sufi setelah melewati fana’
dan baqa adalah ittihad. Dalam tahapan ittihad
seorang sufi bersatu dengan Tuhan. Antara yang mencintai dan dicintai menyatu,
baik substansi maupun perbuatannya. Harun Nasution memaparkan bahwa ittihad adalah satu tingkatan ketika
seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, satu tingkatan yang
menunjukan bahwa yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehinggaa
salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata, “Hai aku.”[25]
4.
Ajaran Tasawuf
Al-Hallaj
Diantara
ajaran tasawuf Al-Hallaj yang paling terkenal adalah Al-hulul dan wahdat
Asy-syuhud yang kemudian melahirkan paham wihdat Al-wujud (kesatuan wujud) yang dikembangkan Ibn ‘Arabi. Al Hallaj
memang pernah mengaku bersatu dengan Tuhan (hulul).
Kata Al-hulul, berdasarkan pengertian
bahasa, berarti menempati suatu tempat. Adapun menurut istilah ilmu tasawuf,
al-hulul berarti paham yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki tubuh-tubuh manusia
tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan
yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.[26]
Al-Hallaj
berpendapat bahwa dalam diri manusia sebenarnya ada sifat-sifat ketuhanan. Ia
mewakilkan ayat:
﴿٣٤﴾الْكَافِرِينَ مِنَ وَكَانَ وَاسْتَكْبَرَ أَبَى إِبْلِيسَ
فَسَجَدُواْ إِلاَّ لآدَمَ اسْجُدُواْ لِلْمَلاَئِكَةِ قُلْنَا وَإِذْ
Artinya:
“Dan
ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada
Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia
termasuk golongan orang-orang yang kafir.”[27]
Bahwa Allah memberi
perintah kepada malaikat untuk sujud kepada Adam. Karena yang berhak diberi
sujud hanya Allah, Al-Hallaj memahami bahwa dalam diri adam sebenarnya ada
unsur ketuhanan. Ia berpendapat demikian, karena sebelum menjadikan makhluk,
Tuhan melihat Dzat-Nya sendiri dan Ia pun cinta kepada Dzat-Nya sendiri, cinta
yang tak dapat disifatkan, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab
dari yang banyak ini. Ia mengeluarkan sesuatu dari tiada dalam bentuk copy diria-Nya yang mempunyai segala
sifat dan nama. Bentuk copy ini
adalah Adam. Pada diri Adam-lah, Allah muncul.[28]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Tasawuf ‘irfani merupakan salah satu ajaran yang
terdapat didalam ilmu tawasuf. Untuk
menjadi seorang yang sufi, seseorang harus rela meninggalkan segala yang
dimilikinya dan hanya fokus kepada satu tujuan yaitu Allah SWT.
Tasawuf ‘irfani memiliki beberapa tokoh
dengan ajaran-ajarannya diantaranya, Rabi’ah Al-‘Adawiyah dalam perkembangan
mistisme tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah.
Dzu Al-Nun Al-Mishri yang dikenal dengan ajaran ma’rifat dan pandangannya tentang maqamat dan ahwal. Abu Yazid Al-Bustami dengan
ajaran taswufnya tentang fana’ dan baqa’. Abu Manshur Al-Hallaj yang
dikenal dengan ajaran tasawuf adalah al-hulul dan wahdat asy-syuhud .
B.
SARAN
Meskipun
kita sebagai manusia biasa yang juga tidak sempurna. Sepatutnya kita mengambil
dari para tokoh-tokoh diatas, dimana ketika kita beribadah kepada Allah
fokuskan niat kita hanya untuk memperoleh kedekatan , ridha, dan rahmat dari
Allah bukan yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah, 2015.
Anwar, Rosihon dan Mukhtar Solihin. Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia, 2004.
Haeri, Fadhlallah. Jenjang-Jenjang Sufisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Nasution, Ahmad Bangun dan Rayani Hanum
Siregar. Akhlak Tasawuf. Depok: PT Rajagrafindo Husada, 2013
Solihin, Mohammad Muchlis. Akhlak & Tasawuf. Surabaya: Pena
Salsabila, 2017
[2] Ahmad Bangun Nasution
dan Rayani Hanum Siregar, Akhlak Tasawuf
(Depok: PT Rajagrafindo, 2013), hlm. 27.
[4] Ibid. 120.
[5] Fadhlallla Haeri, Jenjang-Jenjang Sufisme (Yogyakarta:
Putaka Pelajar, 2000), hlm. 170.
[6] Rosihon Anwar dan
Mukhtar Solihin, Ilmu Taasawuf
(Bandung: cv Pustaka Setia, 2004), hlm. 123.
[7] Ibid. 130.
[8] Ibid. 131.
[9] Ibid. 131.
[10] Ibid. 135.
[11] Ibid. 136.
[12] Ibid. 137.
[13] Ibid. 120-121.
[14] Ibid. 122.
[15] Ibid. 125.
[16] Ibid. 126.
[17] Ibid. 126-127.
[18] Mohammad Mochlis
Solichin. Ahlakh & Tasawuf (Surabaya:
Pena Salsabila, 2017), hlm. 135.
[19] Ibid. 128.
[20] Ibid. 129.
[21] Mohammad Mochlis
Solichin. Ahlakh & Tasawuf (Surabaya:
Pena Salsabila, 2017), hlm. 157.
[22] Ibid. 130.
[23] Ibid. 131.
[24] Ibid. 132.
[25] Ibid. 133.
[26] Ibid. 137.
[27]
JavanLabs, “Surah Al-Baqarah Ayat 34”, Tafsirq.com, di akses dari https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-34,
pada tanggal 05 oktober 2018 pukul 14.02
[28]Ibid. 138.

Komentar
Posting Komentar