TASAWUF DI INDONESIA DAN TOKOHNYA


 MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Tasawuf
yang diampu oleh Bapak Moch. Cholid Wardi, M.HI




DI SUSUN OLEH  KELOMPOK 8 :
Rofi’ah                        (18383022160)
Siti Noer Fadilah        (18383022170)
Siti Nur Anisah           (18383022172)
Sri Susanti                   (18383022176)
                                    Wasilatus Zahra          (18383022192)


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
EKONOMI BISNIS ISLAM
PERBANKAN SYARIAH
2018



KATA PENGANTAR
             Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya kepada kami,  sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang  Tasawuf di Indonesia dan Tokohnya  untuk memenuhi tugas mata kuliyah Akhlak Tasawuf.  Solawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad  SAW.  Yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam terang benderang yakni dengan adanya iman dan islam.
Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan makalah ini. Penyusun juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan nya.  Oleh karena itu, kritik dan saran dari dosen pengampu sangat penyusun harapkan dan semoga apa yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


Pamekasan,  09 Oktober  2018


                                                                                                         Penyusun:Kelompok 8








DAFTAR ISI


HALAMAN SAMPUL.................................................................................. ........ i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. ........ 1
A.    Latar Belakang..................................................................................... ........ 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. ........ 1
C.     Tujuan Penulisan................................................................................... ........ 1

BAB II PEMBAHASAN............................................................................... ........ 2
A.    Sejarah Pekembangan tasawuf di Indonesia .......................................          2
B.     Tokoh-Tokoh Tasawuf di Indonesia ...................................................           4

BAB III PENUTUP. …………………………………………………………….   11
A.    Kesimpulan........................................................................................... ........ 11
B.     Saran...........................................................................................................    11

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………. 12








BAB I
PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang
Kajian Tasawuf Nusantara merupakan kajian terpenting dari kajian Islam di Indonesia. Sejak masuknya Islam di Indonesia telah ada unsur tasawuf mewarnai kehidupan masyarakat, bahkan sampai saat ini tasawuf masih terlihat menjadi bagian yang terpenting di Indonesia. Penyebaran Islam yang berkembang secara spektakuler di Indonesia berkat peran dari tokoh-tokoh tasawuf menjadi kenyataan yang diakui oleh hampir mayoritas sejarawan. Hal itu disebabkan oleh sifat dan sikap kaum sufi yang kompromis dan penuh kasih sayang. Tasawuf menjadi faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas.

B.     RumusanMasalah
1.      BagaimanaSejarah perkembangan tasawuf di Indonesia?
2.      Siapa saja tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia dan ajarannya?jelaskan!
C.    TujuanPenulisan
1.      UntukMengetahuiSejarahtasawuf di Indonesia
2.      Untuk Mengetahui tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia










BAB II
PEMBAHASAN
A.    SejarahPekembangan tasawuf di Indonesia         
Keberadaan tasawuf, sebagai bagian dari pola keberagamaan Islam di Indonesia, tentu sejalan dengan kehadiran Islam itu sendiri,yang dibawa oleh para da’i dan para muballigh. Dengan demikian,sudah bisa dipastikan bahwa para da’i dan para muballigh Islam tersebut terlebih dahulu melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan tuntunan dan konsep tasawuf sejak dari negeri asalnya, yaitu negeri Arab di mana Islam dilahirkan.[1]
Para da’i dan muballighyang datang ke Indonesia pertama kali adalah para sufi. Merekalah yang memainkan peran utama dalam proses penyebaran Islam di kawasan ini.Kehadiran Islam di Indonesia jelas telah bercorakkan tasawuf. Hal ini dipahami karena dalam perjalanan Islamisasi di negeri ini, tidak ditemukan adanya benturan-benturan yang secara horizontal mengarah pada pertikaian antar umat beragama. Islam diterima oleh anak bangsa, melalui konsep-konsep Islam yang banyak bernuansa Esoteris (tasawuf), sehingga leluhur bangsa ini, yang pada waktu itu mempercayai kekuatan kerohanian (animisme dan dinamisme), tidak menemui kesulitan dalam menerima ajaran Islam yang baru datang. Tak terkecuali masyarakat, para rajapun seperti raja Brawijaya menganggap bahwa datangnya agama Islam itu bukanlah merupakan suatu tantangan.
Hal lain adalah karena corak tasawuf di Indonesia tidak berbeda dengan tasawuf yang berkembang di negeri asalnya, yaitu tasawuf yang banyak menggunakan analisis kasyaf dengan nalar intuisif seperti tasawuf Nuru al-Din al-Raniri dan tasawuf yang menggunakan analisis filosufis dengan nalar rasionalitas seperti, tasawuf Samsu al-Din al-Sumatrani. Hanya saja, menurut HAMKA, tasawuf model pertama kali-lah, yang pertama masuk ke Indonesia dan langsung dari Arab, yaitu tasawuf yang bermadhab Syafi’i. Dengan demikian pengaruh tasawuf al-Ghazali yang bermadhab Syafi’i lebih dahulu dibanding dengan pengaruh tasawuf al-Hallaj yang bermadhab Syi’.[2]
 Pekembangan Tasawuf di Indonesia, tidak terlepas dari pengkajian proses Islamisasi di kawasan ini. Sebab, sebagian besar menyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para Sufi. Dari sekian banyak naskah lama yang berasal dari sumatera, baik yang ditulis dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Melayu, berorientasi Sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf merupakan unsur yang cukup Dominan dalam masyarakat pada masa itu. Kenyataan lainnya, kita bisa melihat pengaruh yang sangat besar dari para Sufi ini dalam memengaruhi kepemimpinan Raja,baik dari Aceh maupun yang ada ditanah Jawa.[3]
 Menurut Abu Bakar Aceh, tasawuf yang masuk pertama ke indonesia adalah yng bercorak kedua, yaitu tasawuf yang berfaham Wahdatul Wujud dan Fana setelah melewati India dan persia. Baik tasawuf corak pertama ataupun kedua, nampaknya sama mendapatkan tempat dan diterima oleh bangsa Indonesia,sekalipun pada keadaaan pada keadaan terakhir ini,tasawuf corak pertama lebih diminati. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari akibat dieksekuensinya Syekh Siti Jenar yang mempertahankan paham Wahdatul Wujud dan Fana di depan para Wali Songo.
Perkembangan Islam di Jawa digerakkan oleh Wali Songo atau Wali Sembilan sebutan itu sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah penghanyut tasawuf yang sudah sampai pada derajat “Wali”. Bukti ini diperkuat lagi oleh hikayat Jawa (Babat Jawa)yang menghasilkan Drama pertentangan Sunan Giri dan Sunan Kalijaga disatu pihak dan Syekh Siti Jenar dipihak lain, yang merupakan petunjuk kuat dalam kehidupan tasawuf yang berkembang pada masa itu. Para Wali bukan saja pameran sebagai penyair Islam, melainkan, mereka juga ikut berperan kuat pada pusat kekuasaan kesultanan. Karena posisi itu, mereka mendapat gelar Susuhunan yang biasa disebut Sunan. Dari peranan politik itu, mereka dapat “ Meminjam” kekuasaan Sultan dan kelompok Elit keraton dalam menyebarkan dan memantapkan penghayatan Islam sesuai dengan keyakinan Sufisme yang mereka anut.
Semenjak penyiaran Islam di Jawa diambil alih oleh kerabat Elit Keratin, secara perlahan-lahan terjadi proses Akulturasi Sufisme dengan kepercayaan lama dan tradisi lokal, yang berakibat bergesernya nilai kekislaman Sufisme karena tergantikan oleh model spiritualis non religius. Situasi yang hampir sama menimpa dunia pesantren yang disebabkan oleh invasi sistem pendidikan sekuler yang beresal dari eropa melalui kolonial Belanda. Karena faktor-faktor internal dan eksternal tersebut, kehidupan Sufisme di Indonesia secara berangsur-angsur bergeser dari garis lurusyang diletakkan para Sufi terdahulu sehingga warna kejawen lebih tampil kedepan dari pada Sufismenya, seklipun demikian, sebenarnya Sufisme adalah semacam “sebuah pohon” yang berakar kuat dan dalam pada Islam, seirama dengan semangat gerakan pembaruan dalam Islam, dunia Sufisme juga mengalami pembaharuan.
B.     Tokoh-Tokoh Tasawuf di Indonesia
            Perkembangan Tasawuf Di Indonesia
Membahas perkembangan tasawuf di indonesia, tidak lepas dari pengkajian proses islamisasi di kawasan ini. Sebab, sebagian besar penyebaran islam di nusantara merupakan jasa para sufi.
Dari sekian banyak naskah lama yang berasal dari sumatra, baik yang di tulis bahasa arab maupun bahasa melayu, berorientasi sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf merupakan unsur yang dominan dalam masyarakat pada masa itu. Kenyataan lainnya, kita bisa melihat pengaruh yang sangat besar dari para sufi ini dalam memengaruhi kepemimpinan raja, baik yang ada di tanah aceh maupun tanah jawa. Di kawasan sumatra bagian utara, ada empat sufi terkemuka, antara lain:[4]
  1. Hamzah fansuri (± abad 17 M) yang terkenal dengan karya tulisnya asrar al_’arifin dan syarab al_’asyikin, serta beberapa kumpulan syair sufistiknya.
  1. Riwayat hidup.
Nama hamzah al-fansuri bagi kalangan ulama di indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir semua penulis sejarah islam mencatat bahwa hamzah al-fnsuri dan muridnya syamsuddin as-syumatrani termasuk tokoh sufi yang sepaham dengan al-hallaj, paham hulul, ijtihad, mahabbah, dll yang sepaham derngan al-hallaj. Hamzah al-fansuri salah seorang pujangga islam yang sangat populer pada masanya sehingga namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesastraan melayu dan indonesia. Namanya tercatat sebagai orang kaliber besar dalam perkembangan islam di nusantara dari ababnya hingga kini. Dalam buku-buku sejarah mengenai aceh namanya di uraikan panjang lebar.
Meskipun keberadaannya al-fansuri di yakini para ahli, tahun dan tempat kelahirannya hingga sekarang masih belum di ketahui. Ketidakjelasan riwayat al-fansuri ini disebabkan tidak dimasukkannya nama al-fansuri dalam dua sumber penting sejarah aceh, yaitu: hikayat aceh dan bustanus salqtin yang di tulis atas perintah sultan.
Berdasarkan kata “fansur” yang menempel pada namanya, sebagian peneliti beranggapan bahwa ia berasal dari fansur, sebutan orang arab terhadap barus yang sekarang merupakan kota kecil di pantai barat sumatra utara yang terletak di antara sibolga dan singkel. Dalam satu syairnya ia menulis: Hamzah nur asalnya fansuri. Mendapat wujud di tanah syahr nawi. Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali. Daripada abdul qadir sayyid jailani. Ada yang berpendapat bahwa “syahru nawi” adalah bandar “bandar ayuthia”, ibu kota kerajaan siam bernama syahir nuwi yang datang ke aceh pada zaman dahulu, kemudian membangun aceh sebelum islam datang.
Banyak orang menyanggah al-fansuri karena paham wihdatul wujud, hulul, ijtihadnya sehingga mengecapnya sebagai seseorang yang sesat, zindiq, kafir, dll. Ada orang yang menyagkanya sebag pengikut ajaran syi’ah. Ada juga yang memercayainya bahwa ia bermadzhabsyafi’i di bidang fiqh. Dalam tasawuf ia mengikuti tarekat qadiriyah yang di bangasakan terhadap syekh abdul qadir jailani.
Syair-syair al-fansuri terkumpul dalam buku-bukunya yang terkenal. Misalnya: Syair burung pingai, syair dagang, syair pungguk, syair sidang faqir, syair ikan tongol, syair perahu. Karangan al-fansuri yang berbentuk kitab ilmiah adalah: asrarul ‘arifin fi bayaani, ‘ilmis suluki wat tauhid, syarbul ‘asyiqiin, al-muhtadi, ruba’i hamzah al-fansuri.
Al-fansuri adalah seorang hli bahasa, bahasa yng di kuasai yang pasti bahasa arab, bahasa farsi, dan bahasa bahasa melayu, ini dapat di lihat dari kalimatnya: “amma ba’du :adapun kemudian daripada itu maka ketahui olehmu, hai saudarauku, al-faqir adh-dhaif al-khalif hamzah fansuri radhiallahu anhu, hendak menanyakan jalan kepada allah dengan bahasa jawa dalam kitab ini saat sampai segala hamba yang tidak tahu bahwa bahasa arab dan farsi dapat memahaminya.’’Ada riwayat yang mengatakan al-fansuri pernah sampai ke semenanjung dan mengembangkan tasawuf di negeri perak, perlis, kelantan, trengganu, dll.
  1. Ajaran hamzah al-fansuri.

Pemikiran-pemikiran al-fansuri tentang tasawuf banyak di pengaruhi oleh ibnu arabi dalam paham wahdat al-wujudnya sebagai seorang sufi, ia mengajarkan bahwa tuhan lebih dekat daripada leher manusia sendiri dan tuhan tidak bertempat, serkalipun sering dkatakan bahwa Dia ada di mana-mana. Ketika menjelasakan ayat “fainama tuwallu fa tsamma wajhu’llah” ia katakan kemungkinan untuk memandang wajah allah SWT. Di mana-mana merupakan uniomistca. Para sufi menafsirkan “wajah llah SWT” sebagai sifat-sifat tuhan, sepert pengasih, penyayang, jalal, dan jamal. Dalam suatu syi’irnya al-fansuri berkata: “mahbubmu itu tiada berha’il. Pada ayna ma tuwallu jangan kau ghafil. Fa tsamma wajhullah sempurna wasil. Inilah jalan orang yang kamil”.[5]
Hamzah al-fansuri menolak ajaran pranayama dalam agama hindu yang membayangkan tuhan berada di bagian tertentu dari tubuh, seperti ubun-ubun yang di pandang sebagai jiwa dan dijadiakan titik konsentrasi dalam usaha mencapai persatuan. Menurutnya, wujud itu hanyalah satu walaupun keliatan banyak, Dari wujud yang satu ini ada yang merupakan kulit/lahir dan isi/batin.
Pengambaraan yang pernah dilakukan al-fansuri jasad dan rohani yang diungkapkan dengan syair: “hamzah fansur di dalam mekkah. Mencari tuhan di baitul kabah. Di barus ke kudus terlalu payah. Akhirnya dapat di dalam rumah.” Kata-kata ini merupakan sindiran terhdap abu yazid al-bustami yang mengatakan bahwa tuhan berada di dalam jubahnya. Di dalam al-quran terdapat ayat-ayat mutasyabihat misal pada ayat yang artinya “di mana kamu hadapkan wajahmu di situ ada wajah tuhan kami lebih dekat daripada urat leher ”.
  1. Nuruddin ar-raniri

a.       Riwayat nuruddin ar-raniri.

Beliau di lahirkan di ranir, sebuah kota pelabuhan tua di pantai gujarat, india. Nama lengkapnya adalah nuruddin muhmmad bin hasanjin al-hamid asy-syafi’i ar-raniri. Tahun kelahirannya tidak di ketahui pasti, tetapi kemungkinan besar menjelang akhir abab ke-16. Pendidikan pertamanya di peroleh di ranir kemudian dilanjutkan ke hadhramaut. Ketika masih di negeri asalnya ia sudah mengusai banyak ilmu agama. Di antara guru yang paling banyak memengaruhinya adalah abu nafs sayyid imam bin’abdullah bin syaiban.
Menurut catatan azyumardi azra, ar-raniri merupakan tokoh pembaruan di aceh. Pembaruan utamanya adalah memberantas aliran wujudiyyah yang di anggap sesat. Bahkan ia mengeluarkan fatwa yang mengarah pada perburuan terhadap orang-orang sesat.
Karya-karya yang pernah di tulis ar-raniri:
1.      Ash-shiraht al-mustaqim.
2.       Bustan as-salatin fi dzikr al-awwalin wa al-akhirin.
3.       Durrat al-fara’idh bi syarhi al-aqa’id.
4.       Syifa’ al-qulub.
b.       Ajaran ar-raniri.
1.      Tuhan.
Pendidikan ar-raniri dalam masalah ketuhanan pada umumnya bersifat kompromis. Ia berupaya menyatukan paham mutakallimin dengan paham para sufi yang di wakili ibnu arabi. Ia berpendapat bahwa ungkapan “wujud allah dan alam esa” berarti alam ini merupakan sisi lahiriyah dari hakikatnya yang batin. Akan tetapi ungkapan itu pada hakikatnya bahwa alam ini tidak ada. Yang ada hanyalah wujud allah yang esa. Jadi tidak dapat dikatakan alam ini bersatu dengan allah SWT.
2.      Alam.
Ar-raniri berpandangan bahwa alam ini diciptakan allah SWT. Melalui tajalli. Ia menolak teory al-faidh (emanasi) al-farabi karena membawa pada pengakuan bahwa alam ini qadim sehingga  jatuh pada kemusrikan. Alam menurutnya, merupakan wadah tajalli asma dan sifat allah SWT. Dalam bentuk yang konkret. Sifat ilmu ber-tajalli pada alam akal; nama rahman ber-tajalli pada arsy; nama rahim ber-tajalli pada kursy; nama raziq ber-tajalli pada falak ketujuh; dan seterusnya.
3.      Manusia.
Menurut ar-raniri manusia merupakan makhluk allah SWT. yang paling sempurna di dunia ini. Sebab manusia merupakan khalifah allah SWT. yang di jadikan sesuai dengan citra-nya. Dia merupakan mazhar (tempat kenyataan asma dan sifat allah SWT. paling lengkap dan menyeluruh) konsep insan kamil pada dasarnya hampir sama dengan apa yang telah di gariskan ibnu arabi.
4.      Wujudiyyah
Menurut ar-raniri berpusat pada wahdat al-wujud  yang di salah artikan kaum wujudiyyah dengan arti kemanunggalan allah SWT. dengan alam. Menurutnya pendapat hamzah al-fansuri tentang wahdat al-wujud dapat membawa pada kekafiran. Ar-raniri berpandangan bahwa jika benar tuhan dan makhluk hakikatnya satu, dapat di katakan bahwa manusia adalah tuhan dan tuhan adalah manusia.  Jika demikian halnya, manusia mempunyai sifat-sifat tuhan.
5.       Hubungan syariat dan hakikat.
Pemisahan antara syariat dan hakikat menurut ar-raniri, merupakan sesuatu yang tidak benar. Untuk menguatkan argumennya ia mengajukan beberapa pendapat pemuka sufi, di antaranya adalah syekh abdullah al-aidarusi yang menyatakan bahwa tidak ada jalan menuju allah SWT. kecuali melalui syariat yang merupakan pokok dan cabang  islam.
3.Syekh abdur rauf as-sinkili.
a.       Riwayat abdur rauf as-sinkili.
Abdur rauf as-sinkili adalah seorang ulama dan mufti besar kerajaan acehpada abad ke-17 (1606-1637 M). Nama lengkapnya adalah syekh abdur rauf bin ‘ali al-fansuri. Sejarah mencatat bahwa ia merupakan murid dari dua  ulama sufi yang menetap di mekkah dan madinah. Ia sempat menerima ba’iat tarekat syattariyah di samping ilmu-ilmu sufi yang lain. Termasuk sekte dan bidang ruang lingkup ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengannya.[6]
 Menurut hasyimi ayah as-sinkli berasal dari persia yang datang ke samudera pasai pada akhir abad ke-13 kemudian menetap di fansur, barus, sebuah kota pelabuahan tua di pantai barat sumatra. Pendidikannya di mulai dari ayahnya di simpang kanan (sinkil). Kepada ayahnya ia belajar ilmu agama, sejarah, bahasa arab, mantiq, filsafat, sastra arab atau melayu dan bahasa persia. Dan di lanjutkan ke samudra pasai dan belajar di dayah tnggi pada syekh sam ad-din as-sumtrani. Setelah itu ia melanjutkan ke arabia.As-sinkili banyak mempunyai murid di antranya syekh burhanuddin ulakan (wafat 1111 H/1691 M) yang aktif mengembangkan tarekat syattriyah.
 Di anatara karya-karya as-sinkili adalah:
1.      Mir’at ath-thullab.
2.      Hidayat al-balighah.
3.      ‘Umdat Al-muhtajin.
4.       Syams al-ma’rifah.
5.       Kifayah al-muhtajin.
6.      Daqa’iq al-huruf.
7.       Turjuman al-mustafidh.
b.      Ajaran abdur rauf as-sinkili.

Sebelum as-sinkili membawa ajaran tasawufnya di acah telah bekembang ajaran tasawuf falsafi yaitu tasawuf wujudiyyah yang kemudiam dikenal dengan nama wahdat al-wujud. Ajaran tasawuf ini diangapnya sebaai ajaran sesat dan penganutnya dianggap murtad.[7]
as-sinkili berusaha merekunsilasi antara tasawuf dan syariat. ajaran tasawufnya sama dengan samsuddin dan nuruddin yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki yaitu Allah swt. sedangan alam ciptaanya bukanlah merupakam wujud hakiki melainkan bayangan yang hakiki. Menurutnya, jelaslah bahwa Allah swt berbeda dengan alam.walaupun demikin antara bayangan alam dan yang memancarkan bayangan Allah swt tentu terdapat keserupaan. Sifat-sifat manusia adalah bayangan-bayangan Allah swt seperti yang hidup, yang tahu, dan yang melihat. Pada setiap perbuatan adalah perbuatan Allah swt.
zikir dalam ajaran as-sinkili merupakan usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa tujuan zikir adalah mencapai fana’ (tidak wujud selain wujud Allah swt).
zikir dalam ajaran as-sinkili merupakan usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa tujuan zikir adalah mencapai fana’ (tidak wujud selain wujud Allah swt).
sajaran tasawuf as-sinkili yang lain bertalian dengan martabat perwujudan tuhan. Menurutnya ada tiga bartabat perwujudan tuhan pertama martabat ahadiyyah atau la ta’ayyum yaitu alam pada waktu itu masih pada hakikiat gaib. Kedua martabat wahdah atau ta’ayyum awal yaitu udah tercipta hakikat muhammadiyah. Ketiga bartabat wahdiyyah atau ta’ayyum tsani yang disebut juga ayyan tsabitah dan dari sinilah alam tercipta. Tingkatan itulah yang dimaksud ibnu arabi dalam syair-syairnya. Bagi as-sinkili jalan untuk mengesakan tuhan adalah dengan zikir lailahaillah sampai tercipta fana.












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Pekembangan Tasawuf di Indonesia, tidak terlepas dari pengkajian proses Islamisasi di kawasan ini. Sebab, sebagian besar menyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para Sufi. Dari sekian banyak naskah lama yang berasal dari sumatera, baik yang ditulis dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Melayu, berorientasi Sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf merupakan unsur yang cukup Dominan dalam masyarakat pada masa itu. Kenyataan lainnya, kita bisa melihat pengaruh yang sangat besar dari para Sufi ini dalam memengaruhi kepemimpinan Raja,baik dari Aceh maupun yang ada ditanah jawa. Adapun tokoh-tokoh yang ada didalam perkembnagan tasawuf di Indonesia yaitu: Hamzah Al-Fansuri, Nuruddin ar-raniri, Syekh abdur rauf as-sinkili.
B.     Saran

Setelahmenguraikanberbagaimacampenjelasantentang Tasawuf di Indonesia dan Tokohnya. Diharapkan makalah ini mampu menjadi acuan bagi mahasiswa agar mampu memahami dan menjadikannya sebagai contoh teladan.











Daftar Pustaka

 Zaini zuhri,Akhlak Tasawuf. (Malang: Madani Media. 2015).

M.Sholihin dan Rosihon Anwar,Ilmu Tasawuf. (Bandung:Pustaka Setia,2008 ).

Abuddin Nata,Akhlak Tasawuf,( Jakarta: Rajawali Press,2010).

Rosihon Anwar,Akhlak Tasawuf, ( Bandung pustaka setia,2010).

Amril,Akhlak Tyasauf.( Bandung: Refika Aditama,2015).

















[1]Zaini zuhri,Akhlak Tasawuf.(Malang: Madani Media.2015). hlm. 327.
[2]Ibid. hlm. 330.
[3]Rosihon Anwar,Akhlak Tasawuf, ( Bandung pustaka setia, 2010). Hlm. 337.
[4]Abuddin Nata,Akhlak Tasawuf,( Jakarta: Rajawali Press, 2010). hlm. 179.
[5]M.Sholihin dan Rosihon Anwar,Ilmu Tasawuf. (Bandung:Pustaka Setia,2008 ). hlm. 141.
[6]Ibid. hlm. 145.
[7]Amril, Akhlak Tyasauf.( Bandung: Refika Aditama,2015). Hlm. 36.

Komentar

Postingan populer dari blog ini