MAQAMAT DAN AHWAL

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlaq tasawuf
Dosen pengampu: Moch. Cholid Wardi, M. Hi



Oleh:
MOH. TOMMY RIYAN HIDAYAT
NIM.18383021128
ZAINUR RAHMAN
NIM. 18383021200
SANKA RAGUSTI ADJI
NIM. 18383021165

PRODI PERBANKAN SYARIAH
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
2018








KATA PENGANTAR

            Pertama serta yang paling utama, tak lupa kita panjatkan puja dan puji syukur kita ke hadirat ilahi rabbi. Yang mana dengan berkat hidayah dan maunahnya, kami bisa menyelasaikan makalah ini dengan waktu yg telah ditentukan.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar uhammad SAW. Yang mana dengan hadirnya beliau ke alam ini, kita bisa terangkis dari alam kejahilan menuju alam yang terang menderang dengan adanya agama islam.
Disamping itu, kami banyak mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak Moch. Cholid Wardi, M. Hi, selaku dosen mata kuliah Akhlaq Tasawuf yang telah memberikan tugas ini kepada kami sebagai penulis.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat. Dan kami juga mengharap kritik dan saran terhadap makalah ini agar bisa dijadikan pelajaran untuk lebih baik kedepannya.


                                                                        Pamekasan,27 November 2018


                                                                                                 Penulis








                                           DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
     A.Latar belakang........................................................................1
     B.Rumusan masalah...................................................................1
     C.tujuan penulisan......................................................................1
BAB II PEMBAHASAN                        
     A.Definisi maqamat dan ahwal...................................................3
     B.pembagian-pembagian maqamat dan ahwal...........................3
BAB III PENUTUP
     A.Kesimpulan.............................................................................7
     B.Saran.......................................................................................7
DAFTAR USTAKA..................................................................... 8





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya menimbulkan akhlak mulia. Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkan secara benar. banyak pengertian tasawuf yang dirumuskan oleh ulama tasawuf, tetapi tidak mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh. defenisi tasawuf yang dirumuskan oleh ulama tasawuf, tetapi tidak mencakup pengertian tasawuf secara menyeluruh.
Namun perlu dicatat, maqam dan hal tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat dua sisi dalam satu mata uang. Keterkaitan antar keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan dan dalammaqam akan ditemukan kehadiran ahwal. Ahwal yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki maqam-maqam selanjutnya.

B. Rumusan masalah
1.      Apa devinisi dari maqamat dan ahwal?
2.      Apa saja pembagian-pembagian maqamat dan ahwal itu?

C. Tujuan masalah
1.      Untuk mengetahui devinisi maqamat dan ahwal.
2.      Untuk mengetahui pembagian-pembagian maqamat dan ahwal.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Devinisi maqamat dan ahwal
1. maqamat
            Maqam dalam terminologi tasawuf sangat berbeda dengan maqam dalam istilah umum yang berarti kuburan. Devinisi maqam dengan bentuk jama’ maqamat secara etimologis adalah bentuk jama’ dari kata maqam, yang berarti kedudukan spiritual (english:station). Maqam arti dasarnya adalah “tempat berdiri”. Kaum sufi telah merumuskan teori-teori tentang jalan menuju Allah SWT, yakni menuju ke suatu tahap makrufatullah (mengenal Allah SWT dengan hati). Secara bertahap menempuh berbagai fase yang dikenal dengan maqam ( jama’maqamat) yang berakhir dengan makrifah kepada Allah SWT.
            Dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba dihadapan Allah SWT pada saat dia berdiri menghadap kepadanya. Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju tuhan. Didalam kenyataannya para saliki memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain memerlukan waktu bertahun-tahun.
            Menurut al-Qusyairi ialah hasil usaha manusia dengan kerja keras dan keluruhan budi pekerti yang dimiliki hamba tuhan yang dapat membawanya kepada usaha dan tuntunan dari segala kewajiban. Sedangkan al-Thusi sebagaimana yang di tahqiq oleh Abd. Halim Mahmud mengatakan “kedudkan hamba dihadapan Allah SWT yang diperoleh melalui kerja keras dalam ibadah, kesungguhan melawan hawa nafsu, latihan-latihan kerohanian serta menyerahkan seluruh jiwa dan raga semata-mata untuk berbakti kepadanya.
            Al-Kalabadhi (w.990/5) didalam kitabnya “al-ta’aruf li madzhab ahl tasawuf”, sebuah kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa inggris oleh Artur Jhon Arberry dengan judul : the dokctrin of the sufi”3, menjelaskan ada sekitar sepuluh maqamat: taubat-zuhud-sabar-faqir-dipercaya-tawadhu’ (rendah hati)-tawakkal-ridho-mahabbah(cinta)-dan ma’rifat. Ibn arabiy dalam kitab al-Futuhat al-Makiyah (the meccan revalation) bahkan menyebutkan 60 maqam tetapi tidak memperdulikan sistematika maqam tersebut. Sedangkan maqam menurut Ibn ata’illah ada 9 tahapan, yaitu:taubat, zuhud, sabar, syukur, khauf, raja’,ridha, tawakkal, mahabbah dan taubat.
            Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa maqam adalah tingkatan seseorang hamba dihadapan tuhannya dalam hal ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukannya. Maqam diperoleh melalui usaha-usaha yang dilakukan seorang hamba. Inikah yang mungkin membedakan antara maqamat dah al-Ahwal yang diperoleh melalui anugerah dari Allah SWT.
            Sementara pada tingkatan urutan maqamat, para sufi berbeda pandangan mengenai hal ini, antara lain:
1.      Al-Qusyairi berpendapat bahwa maqam seorang sufi ada pada enam tingkatan, yaitu: taubat, wara’, zuhud, tawakkal, sabar dan ridho.
2.      At-Thusi mengatakan ada tujuh tingkatan maqam seorang sufi, yaitu: taubat, wara’, zuhud, fakir, sabar, tawakkal dan ridho.
3.      Al-Ghazali mengemukakan ada sepuluh tingkatan maqam seorang sufi, yaitu: taubat, sabar, syukur, harap, takut, zuhud, cinta, ‘asyaq, ansu dan ridho.
4.      Al Kalabadhi berpendapat bahwa maqam seseorang sufi ada sepuluh yaitu; taubat-zuhud-sabar-faqir-di percaya-tawadhu (rendah hati)-tawakkal-ridho-mahabbah (cinta) –dan ma’rifat.
5.      Ibn atha’illahada 9 tahapan, yaitu: taubat, zuhud, sabar, syukur, khauf, raja’, ridho, tawakkal, mahabbah, taubat.
6.      Harun Nasution berpendapat bahwa maqamat meliputi beberapa hal, yaitu; taubat, zuhud, sabar, tawakkal dan ridho.
Maqam-maqam diatas harus dilalui oleh seseorang sufi yang mendekatkan diri kepada tuhannya. Karena urutan masing-masing ulama sufi dalam menentukan urutan sperti yang tersebut diatas tidak seragam sehingga membingungkan murid, biasanya syekh (guru) tasawuf akan memberikan petunjuknya kepada muridnya.
Maqamat merupakan tahapan-tahapan tarikat yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Semisal maqam taubat, seorang salik dikatakan telah mencapai maqam ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwati. Dengan demikian, maqam adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha dan riyadhah (melatih hawa nafsu). Dengan demikian, bagi seorang salik untu mencapai suatu maqam hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan agan-angannya (isqath al-Iradah wa al-Tadbir).

2. Ahwal
            Ada banyak devinisi berkaitan dengan ahwal yang bermunculan diberbagai rujukan sufi, hal demikian memang dirumuskan oleh para sufi, diantaranya seperti pandangan at-Thusi yaitu: “ahwal adalah keadaan hati yang selalu berdzikir, dan bukanlah hal itu dilihat dari metodologi mujahadah dan latihan-latihan seperti yang telah disebutkan sebagaimana terdahulu. Ahwal tersebut seperti : merasa diawasi Allah SWT, perasaan dekat dengan Allah SWT, rasa cinta, takut, harap, rindu, tenang, yakin dan lainnya.
            Kutipan diatas menerangkan bahwa ahwal adalah suatu kondisi jiwa yang diperoleh lewat kesucian hati. Hal adalah sebuah pemberian Allah SWT dan bkan sesuatu yang diusahakan seperti maqamat.
            Sedangkan al-Qusyairi merumuskan bahwa ahwal adalah suatu anugerah Allah SWT atau keadaan yang datang tanpa wujud kerja atau usaha. Seperti halnya maqamat, dalam wujud ahwal juga terjadi perbedaan pendapat dikalangan para sufi tentang jumlah dan urutan-urutannya.
            Terlihat jelas dari apa yang diterangkan sebelumnya, bahwa ada perbedaan antara maqamat dan ahwal. Maqamat adalah suatu tingkatan seorang sufi atau hamba dihadapan tuhannya dalam hal ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukannya, atas dasar usaha yang dilakukan. Sedangkan ahwal adalah suatu kondisi dan keadaan jiwa yang diberikan Allah SWT tanpa upaya yang seseorang hamba yang bersangkutan. Meskipun jika ditelusuri terus akan munculnya ahwal tersebut, maka seolah-olah ada kaitannya dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh seseorang pada fase-fase tertentu untuk membentuk dirinya.
B. Pembagian maqamat dan ahwal
1. Pembagian maqamat
            Berbagai bentuk maqam dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Taubat
            Taubat dapat diartikan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukan, disertai janji yang sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi dosa-dosa serupa, kemudin disertai amal sholeh. Dikalangan sufi, taubat juga dimaknai “keharusan untuk memohon ampunan dari rasa dengki, riya, kelalaian mengingat Allah SWT dan penyait hati lainnya.
            Untu mencapai maqam taubat ini, seorang salik harus meyakini dan mempercayai bahwa irodah Allah SWT meliputi segala sesuatu yang ada. Adapun hal yang dapat membangkitkan maqam taubat ini adalah berbaik sangka kepada-Nya.
B. Zuhud
            Menurut Ibn Atha’illah, zuhud ada dua; zuhd zahir jali seperti zuhud dari perbuatan berlebih-lebihan dalam perkara halal seperti makanan dan hal lain yang mengandung perhiasan duniawi. Dan zuhd bathin khafi seperti zuhud dari segala bentuk kepemimpinan, cinta penampilan dhahir, dan juga berbagai hal maknawi yang terkait dengan keduniaan. Inti dari zuhud adalah jiwa, yaitu tidak merasa bahagia saat kenikmatan dunia telah didapat, dan tidak nestapa apabila kenikmatan dunianya telah tiada
C. Sabar
            Sabar ada tiga macam: 1. Sabar dalam perkara haram, 2. Sabar terhadap kewajiban, 3.sabar atas segala rencana dan usaha. Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha salik sendiri. Namun sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah SWT  kepada salik dan orang-orang yang dipilihnya. Maqam sabar dilandasi dengan keimanan yang sempurna terhadapa kepastian dan ketentuan Allah SWT, serta menanggalkan segala bentuk perencanaan (angan-angan) dan usaha.
D. Syukur
            Syukur dalam pandangan Ibn Atha’illah ada tiga; pertama syukur secara lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nimat yang didapat. Kedua syukur dengan anggota tubuh, yaitu syukur yang di implementasikan dengan ketaatan. Ketiga, syukur dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa Allah SWT adalah sang pemberi nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya.[1]
            Lebih lanjut Ibn ‘Atha’illah memaparkan bahwa syukur juga menjadi dua bagian; syukur dzahir yaitu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjahui segala larangan-Nya, dan syukur bathin yaitu mengakui dan meyakini bahwa segala kenimatan hanyalah dari Allah SWT semata.
E. Wara’
            Secara harfiah, wara’ artinya soleh. Kata-kata wara’ mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik. Dalam pengertian sufi, wara’ adalah meninggalkan yang didalamnya terdapat keraguan antara halal dan haram (syubhat).
F. Ridha dan tawakkal.
            Ridha dalam pandangan Ibn ‘Atha’illah adalah penerimaan secara total terhadapa ketentuan dan kepastian Allah SWT. Maqam ridha adalah maqam yang diperoleh atas usaha salik sendiri, akan tetapi adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Jika maqam ridha sudah ada dalam diri salik, maka sudah pasti maqam tawakkal akan juga akan terwujud. Oleh karena itu, ada hubungan yang erat antara maqam ridha dan maqam tawakal.
            Maqam tawakkal akan membangkitkan kepercayaan secara sempurna bhwa segala sesuatu ada dalam kekuasaan Allah SWT. Sebagaimana maqam-maqam lainnya, maqam ridha dan tawakkal tidak akan benar jika tanpa menanggalkan angan-angan.
G. Faqr
            Secara harfiah, faqr diartikan sebagai seorang yang berhajat, membutuhkan atau orang miskin. Adapun dalam pandangan sufi, faqr adalah tidak meminta lebih dari apa yang dimiliki. Tidak meminta rezeki, kecuali hanya untu menjalankan kewajiban-kewajiban. Tidak meminta sungguh pun tak ada pada diri kita, tetapi kalau diberi diterima. Tidak meminta tetapi tidak menolak.
2. pembagian ahwal
            Adapun macam-macam ahwal adalah sebagai berikut:
A. Muraqabah
            Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangannya. Sesungguhnya manusia pada hakikinya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, mesipun tidak ada orang yang melihatnya. Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya
B. Khauf
            Seorang salik dapat mencapai derajat maqam khauf apabila ia takut akan sirnanya hal dan maqamnya, karena dia tau bahwa Allah SWT memiliki keastian hukum dan kehendak yang tidak dapat dicegah. Ibn ‘Atha’illah menyatakan bahwa jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf,  maka hendaknya dia melihat apa yang dia berikan kepada Allah SWT berupa peribadatan dan ketaatan penuh pada-Nya.
C. Raja’
            Raja’ bukan semata-mata berharap, raja’ harus disertai dengan perbuatan. Jika raja’ hanya harapan tanpa perbuatan, maka tidak lain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengan demikian wajib bagi seorang salik untuk menyertakan amal raja’nya dengan amal kepatuhan dan peribadatan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT secara berkelanjutan.[2]
D. Tuma’ninah.
            Adalah rasa tenang, tidak was-was atau khawatir. Seseorang yang telah mencapai tuma’ninah, ia telah kuat akalnya, kuat iman dan ilmunya serta bersih ingatannya.
            Tuma’ninah terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1.      Pertama adalah kaum awam. Mereka merasa tenang jia menyebutnya.
2.      Kelompok khusus. Mereka tenang karena rela dengan ketetapannya, sabar dengan musibahnya, bertakwa, ikhlas dan damai.
3.      Kelompok istimewa. Merea mengetahui bahwa rahasia-rahasia yang ada pada mereka tidak akan mampu membuat tenang kepada-Nya, karena rasa agung dan segan yang hinggap dihati mereka.
E. Al-Uns
            Dalam pandangan sufi, Uns adalah sifat merasa selalu berteman , tak pernah merasa sepi, dalam keadaan seperti ini  sufi merasa tidak ada yang dirasakan , tidak ada yang di ingat kecuali Allah SWT. Seseorang yang merasakan Uns dibedakan menjadi tiga kondisi:
1.      Hamba yang suka merasakan suka cita berdzikir mengingat Allah SWT dan merasa gelisah disaat lalai.
2.      Seorang hamba yang senang dengan Allah SWT dan gelisah terhadap bisikan hati, dsb
3.      Kondisi yang tidak melihat lagi suka cita karena adanya wibawa kedekatan kemuliaan dan mengagungkan disertai dengan suka cita.
F. Musyahadah
            Musyahadah secara harfiah adalah menyaksikan dengan mata kepala. Seorang sufi bila sudah mencapai musyahadah apabila sudah bisa merasakan bahwa Allah SWT telah hadir atau telah berada dalam hatinya dan seorang telah tidak menyadari apa yang telah terjadi , segalanya tercurah pada yang satu yaitu Allah SWT. Dalam keadaan seperti itu seorang sufi memasuki tingkatan makrifat, dimana seoerang sufi seakan-akan menyasikan Allah SWT dan melalui persaksiannya tersebut maka timbul rasa cinta dan kasih
G. Mahabbah
            Bagian terpenting dari tujuan sufi adalah memperoleh hubungan langsung dengan tuhan, sehingga disadari dan dirasakan dihadirat tuhan. Untuk mencapai hadirat tuhan, harus melalui penyucian jiwa (takhalli) yang berlanjut pada kontemplativa (tahalli) yang berujung pada tingkat illumenativa (tajalli). Ketiga proses ini harus di isi dengan melalui stasiun-stasiun atau maqamat. Mahabbah adalah satu istilah yang selalu berdampingan dengan ma’rifat, karena nampaknyamanifestasi dari mahabbah itu adalah tingkatan pengenalan kepada tuhan yang disebut makrifat. manifestasi dari mahabbah itu adalah tingkatan pengenalan kepada tuhan yang disebut makrifat.
H. Yaqin
            Perpaduan antara pengetahuan yang luas dan mendalam dengan rasa cinta dan rindu yang bergelora bertaut lagi dengan perjumpaan langsung, tertanamlah dalam jiwanya dan tumbuh bersemi perasaan yang mantap, dialah yang dicari itu. Perasaan mantapnya pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan secara langsung, itulah yang disebut dengan al-Yaqin. Yaqin adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan yang ia miliki, karena ia sendiri menyaksikannya dengan segenap jiwanya.[3]




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Maqam arti dasarnya adalah “tempat berdiri”. Kaum sufi telah merumuskan teori-teori tentang jalan menuju Allah SWT, yakni menuju ke suatu tahap makrufatullah (mengenal Allah SWT dengan hati). Secara bertahap menempuh berbagai fase yang dikenal dengan maqam ( jama’maqamat) yang berakhir dengan makrifah kepada Allah SWT.
Sedangkan ahwal adalah suatu kondisi jiwa yang diperoleh lewat kesucian hati. Hal adalah sebuah pemberian Allah SWT dan bkan sesuatu yang diusahakan seperti maqamat.
            Macam-macam maqamat:
1.      Taubat
2.      Zuhud
3.      Sabar
4.      Syukur
5.      Wara’
6.      Ridho dan tawakkal
7.      faqr
Macam-macam ahwal:
1.      Muraqabah
2.      Khauf
3.      Raja’
4.      Tuma’ninah
5.      Al-Uns
6.      Musyahadah
7.      Mahabbah
8.      Yaqin
B. Saran
            Kami sebagai penulis berharap kepada para pembaca, supaya bisa memetik faidah pada makalah.
            bak pepatah mengatakan, Tak ada gading yang tak retak. Begitupun dengan makalah ini. Pastilah makalah ini memiliki banyak kekurangan. Dan kami sebagai penulis pastilah membutuhkan masukan dari para pembaca. Untuk sebagai bahan pertimbangan dalam membentuk makalah ini dengan sebagaimana mestinya.






DAFTAR PUSTAKA

Dr. Zulikfli, M. Ag. 2018. Akhlaq tasawuf (jalan lurus mensucikan diri). Yogyakarta: kalamedia
Dr. H. Mohammad muchlis Solichin, M. Ag. 2018. Akhlaq tasawuf dalam wacana kontemporer. Surabaya: Pena salsabila
Mulyadi. 2006. Menyelami Lubuk Tasawuf. Jakarta: Erlangga


[1]zulkifli (Akhlaq tasawuf “jalan lurus mensucikan diri”) (Yogyakarta: Kalamedia) hlm. 83-87
[2]Mohammad Muchlis Solichin (Akhlaq tasawuf dalam wacana kontemporer) ( Surabaya: Pena salsabila) hlm.157-160
[3]Mulyadi (Menyelami Lubuk Tasawuf) (Jakarta: Erlangga) hlm. 213-214

Komentar

Postingan populer dari blog ini